Kajian pembinaan rutin pekanan setiap Sabtu yang diadakan oleh LPI Hidayatullah dan Yayasan Abul Yatama Semarang kali ini menghadirkan Habib Ja’far Musawa sebagai narasumber. Beliau membahas secara mendalam tentang sedekah dan berbagai bentuknya menurut ajaran Islam. Topik sedekah ini disampaikan dengan penuh hikmah, mengacu pada hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang memberikan pemahaman luas kepada umat.
Hadits Tentang Sedekah: Tidak Hanya Harta
Kisah Sahabat Abu Dzar dan Pertanyaan Tentang Sedekah
Habib Ja’far Musawa membacakan hadits riwayat Abu Dzar r.a., di mana para sahabat miskin mengadu kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka berpuasa seperti kami berpuasa, tetapi mereka juga bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”
Rasulullah SAW menenangkan mereka dengan sabda bahwa sedekah tidak terbatas pada harta. Setiap kebaikan yang dilakukan seorang Muslim dapat dihitung sebagai sedekah. Artinya, semua orang, baik kaya maupun miskin, memiliki kesempatan yang sama untuk bersedekah.
Bentuk-Bentuk Sedekah Menurut Hadits
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tersenyum kepada sesama Muslim adalah sedekah, membaca tasbih “Subhanallah”, tahmid “Alhamdulillah”, tahlil “Lailaha illallah”, dan takbir “Allahu Akbar” juga termasuk sedekah. Mengajak pada kebaikan (amar makruf) adalah sedekah, mencegah kemungkaran (nahi mungkar) juga sedekah, bahkan melampiaskan syahwat kepada istri yang sah pun dihitung sebagai sedekah.
Dengan pemahaman ini, umat Islam diajak melihat sedekah sebagai amal yang luas, mencakup semua amal baik, tidak hanya pemberian materi.
Baca juga: Hidayatullah Semarang Mazhabnya Apa?
Sedekah dan Amar Makruf Nahi Mungkar
Umat Terbaik yang Dipuji Allah
Habib Ja’far Musawa mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnas, ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billah” (Ali Imran: 110).
Beliau menegaskan bahwa umat terdahulu yang tidak melakukan amar makruf nahi mungkar langsung mendapat azab, sedangkan umat Nabi Muhammad SAW diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam konteks ini, sedekah dapat diwujudkan melalui dakwah, amar makruf, dan nahi mungkar.
Sedekah yang Menghidupkan Masyarakat
Melalui amar makruf nahi mungkar, sedekah menjadi sarana membangun masyarakat yang berakhlak mulia. Setiap upaya menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran akan memperkuat hubungan sosial dan membawa keberkahan.
Sedekah Sesuai Kemampuan
Prinsip Keadilan dalam Sedekah
Allah SWT tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Orang kaya dapat bersedekah dengan harta yang banyak, sementara orang miskin dapat bersedekah dengan tenaga, doa, dan amal baik lainnya. Prinsip ini membuat sedekah bisa dilakukan siapa saja.
Setiap Muslim Bisa Bersedekah
Tidak ada alasan untuk tidak bersedekah. Senyum yang tulus, menolong orang tua menyeberang jalan, hingga menyingkirkan duri di jalan adalah sedekah yang pahalanya dicatat oleh Allah SWT.
Implementasi Sedekah di Yayasan Abul Yatama Semarang
Sedekah untuk Anak Yatim dan Dhuafa
Yayasan Abul Yatama Semarang memiliki berbagai program sedekah untuk anak yatim dan dhuafa, seperti santunan rutin, beasiswa pendidikan, dan bantuan kebutuhan pokok.
Kajian Sebagai Sedekah Ilmu
Kajian rutin Sabtu juga menjadi sedekah ilmu. Dengan menghadirkan ulama seperti Habib Ja’far Musawa, LPI Hidayatullah dan Yayasan Abul Yatama Semarang turut menyebarkan ilmu bermanfaat yang pahalanya mengalir terus-menerus. Dalam kajian ini ditegaskan bahwa sedekah adalah amal luas yang bisa dilakukan siapa saja. Baik dalam bentuk harta, tenaga, waktu, maupun kebaikan hati, sedekah adalah jalan menuju keridhaan Allah SWT.
