Sabtu, 20 September 2025, LPI Hidayatullah mengadakan pembinaan rutin Yayasan Abulyatama yang dihadiri oleh guru dan karyawan dari berbagai unit pendidikan.
Pada kesempatan kali ini, pembinaan menghadirkan Ustaz Baidowi Al-Hafiz sebagai pemateri dengan tema tafsir Surat Al-Baqarah ayat 23.
Makna Keraguan dalam Ayat Al-Qur’an
Dalam penyampaiannya, Ustaz Baidowi menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang keraguan terhadap kebenaran Al-Qur’an.
Keraguan atau raiba bukan sekadar rasa tidak yakin, namun dapat berkembang menjadi praduga yang berbahaya, bahkan sampai pada pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah.
Beliau menjelaskan bahwa kata raiba muncul 18 kali dalam Al-Qur’an, dengan rincian:
- 2 kali terkait keraguan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an,
- 16 kali membahas keraguan tentang hari akhir.
Konteks Turunnya Ayat
Pada masa Rasulullah, tokoh Quraisy seperti Abu Jahal dan kelompoknya tidak hanya meragukan wahyu, tetapi juga menantang kebenarannya. Mereka bahkan berdoa agar diturunkan azab, seperti dihujani batu dari langit atau didatangkan atap yang menyakitkan, sebagai bentuk penolakan terhadap penjelasan Rasulullah ﷺ.
Ayat 23 ini memerintahkan orang-orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an untuk mencoba membuat satu surat tandingan. Mereka juga dipersilakan memanggil penolong atau pihak lain untuk membantu mereka. Namun, pada ayat 24 ditegaskan bahwa tidak seorang pun akan mampu melakukannya, sehingga manusia seharusnya tunduk dan tidak lagi meragukan firman Allah.
BACA JUGA: Kajian pekan sebelumnya “Menjadi Pribadi Pemberi dan Bersyukur”
Peringatan untuk Tidak Memunculkan Keraguan
Ustaz Baidowi menekankan bahwa seorang mukmin tidak seharusnya menanyakan sesuatu yang justru memunculkan keraguan dan dapat membawa keburukan.
Keraguan terhadap Allah memiliki jenjang. Pada puncaknya, seorang hamba yang menghambat atau menolak perintah Allah adalah bentuk pengingkaran yang serius.
Beliau juga menjelaskan bahwa penyebutan istilah hamba oleh Allah adalah bentuk penghormatan bagi manusia.
Selain itu, pembalasan dari Allah sering kali serupa atau sepadan dengan perbuatan yang dilakukan oleh manusia.
Perbedaan rezeki yang diterima setiap orang pun tergantung pada amal perbuatannya, yang juga berbeda satu sama lain.
Saksi dan Balasan di Hari Akhir
Dalam tafsir ayat ini, disebutkan pula tentang peran saksi di hadapan Allah.
Barang siapa disaksikan baik, maka akan mendapatkan balasan surga.
Sebaliknya, barang siapa disaksikan buruk, maka akan mendapatkan balasan neraka.
Konsep ini juga dikuatkan dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Harapan dari Pembinaan
Melalui pembinaan ini, diharapkan para peserta dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya keyakinan yang kokoh terhadap Al-Qur’an dan hari akhir.
Dengan iman yang kuat, umat Islam akan mampu menjauhi keraguan dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dalam ibadah maupun interaksi sosial.
