Profil TPQ-Madin

Awal Mula dan Perkembangan TPQ-MADIN Hidayatullah Semarang

Latar Belakang Berdirinya TPQ Hidayatullah

Sejarah TPQ-MADIN Hidayatullah Semarang bermula dari berdirinya gedung TK Islam Hidayatullah yang selesai dibangun pada Mei 1988. Pada masa itu, wilayah Banyumanik didominasi masyarakat Muslim, namun masih banyak yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan metode pembelajaran yang efektif sehingga semangat masyarakat untuk mempelajari kitab suci relatif rendah.

Hadirnya metode Qiroati yang digagas oleh KH. Dahlan Salim Zarkasyi, seorang ulama asal Semarang, menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Metode Qiroati dikenal praktis, sistematis, dan mudah dipahami, sehingga membantu masyarakat mempelajari Al-Qur’an dengan lebih cepat dan benar.

Melihat kondisi tersebut, Yayasan Hidayatullah memutuskan memanfaatkan gedung TK yang masih kosong untuk kegiatan belajar Al-Qur’an. Keputusan ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat sekitar Banyumanik. Dari sinilah cikal bakal lahirnya TPQ Hidayatullah, yang kelak menjadi salah satu lembaga pendidikan Al-Qur’an paling berpengaruh di wilayah Semarang atas.


TPQ Hidayatullah sebagai Pelopor Pendidikan Al-Qur’an

Pada akhir tahun 1980-an, jumlah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kota Semarang masih sangat terbatas. Menurut penuturan Ustadz Saiful Hadi, kepala TPQ Hidayatullah pada era 1990-an, saat itu hanya ada tiga TPQ di seluruh Kota Semarang. Dua yang lebih dahulu berdiri adalah Raudhatul Qur’an di Kauman dan Roudlotul Mujawwidin di Kebun Arum.

Dengan berdirinya TPQ Hidayatullah, masyarakat di kawasan Semarang atas untuk pertama kalinya memiliki tempat belajar Al-Qur’an yang terstruktur dan profesional. Kehadiran TPQ ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Banyumanik dan sekitarnya.


Strategi Syiar Melalui Kegiatan Besar

Dalam memperluas pengaruhnya, TPQ Hidayatullah tidak hanya berfokus pada pengajaran Al-Qur’an, tetapi juga aktif dalam kegiatan syiar Islam. Salah satu strategi yang dijalankan adalah menggelar pengajian akbar dengan menghadirkan tokoh-tokoh ternama.

Beberapa mubaligh kondang yang pernah hadir di TPQ Hidayatullah antara lain KH. Qosim Nur Shiha dan KH. Zainuddin MZ, yang dikenal sebagai dai sejuta umat. Kehadiran mereka berhasil menarik perhatian masyarakat sekaligus meningkatkan semangat umat untuk mempelajari dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.


Pertumbuhan Peserta Didik yang Pesat

Antusiasme masyarakat terhadap pendidikan Al-Qur’an melalui TPQ Hidayatullah terlihat dari lonjakan jumlah santri. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, jumlah peserta didik mencapai sekitar 800 orang.

Santri yang belajar di TPQ ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Lonjakan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan yang diberikan, sekaligus bukti nyata keberhasilan metode pembelajaran yang diterapkan.


Kontribusi TPQ-MADIN Hidayatullah di Era Modern

Lebih dari tiga dekade sejak didirikan, TPQ-MADIN Hidayatullah Semarang terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Kini, lembaga ini tidak hanya fokus mengajarkan cara membaca Al-Qur’an, tetapi juga memberikan pendidikan dasar agama, penguatan akhlak, dan pembinaan karakter santri.

Peran TPQ Hidayatullah semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan tantangan moral generasi muda. Dengan pendekatan yang relevan dan pembelajaran yang menyenangkan, TPQ ini berhasil menjadi wadah yang menyeimbangkan pendidikan agama dan pendidikan formal.


Inspirasi Bagi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an Lain

Keberhasilan TPQ-MADIN Hidayatullah menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan berbasis masyarakat dapat berkembang pesat bila dikelola dengan visi yang jelas. Banyak lembaga pendidikan Al-Qur’an lain yang terinspirasi dari metode dan manajemen yang diterapkan oleh TPQ ini.

Bahkan, beberapa alumni TPQ Hidayatullah kini ikut mendirikan TPQ di berbagai daerah di Semarang, sehingga semakin memperluas jangkauan pendidikan Al-Qur’an di masyarakat.


Kesimpulan

Sejarah berdirinya TPQ-MADIN Hidayatullah Semarang menunjukkan besarnya semangat masyarakat Banyumanik dalam mempelajari Al-Qur’an. Dengan memanfaatkan gedung TK yang kosong pada tahun 1988, Yayasan Hidayatullah berhasil menciptakan lembaga pendidikan yang hingga kini tetap eksis dan berkembang.

Peran TPQ Hidayatullah tidak hanya sebatas tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter dan syiar Islam. Dengan konsistensinya selama lebih dari tiga dekade, TPQ-MADIN Hidayatullah terus menjadi pilar penting dalam mencetak generasi Qur’ani yang siap menghadapi tantangan zaman.

 

tombol baca lebih

 

 

error: Content is protected !!