

Sejarah Berdirinya LPI Hidayatullah Semarang
Pendirian LPI Hidayatullah Semarang tidak terlepas dari perjalanan panjang Yayasan Abul Yatama Semarang yang berdiri pada 23 Juni 1984. Awalnya, yayasan ini fokus memberikan santunan kepada anak-anak yatim muslim dan program orang tua asuh.
Seiring dengan dukungan dan kepercayaan umat Islam, pada 15 Mei 1988, melalui musyawarah dan mufakat, Yayasan Abul Yatama mendirikan Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPI Hidayatullah) yang berlokasi di Jl. Durian Selatan 1/6 Srondol, Semarang.
Langkah awal pendidikan dimulai dengan berdirinya TK Islam Hidayatullah (TKIH) pada 18 Juli 1988, disusul TPQ/MADIN Hidayatullah pada 1 Agustus 1988. Perkembangan terus berlanjut dengan berdirinya:
- SD Islam Hidayatullah (SDIH) pada 16 Juli 1990
- SMP Islam Hidayatullah (SMPIH) pada 2 Juli 1996
- SMA Islam Hidayatullah (SMAIH) pada tahun ajaran 1999/2000
- SD Islam Hidayatullah 02 (SDIH02) pada tahun 2021
Kini, LPI Hidayatullah Semarang berkembang menjadi lembaga pendidikan yang lengkap mulai dari KBTK, SD, SMP, hingga SMA, serta MADIN dan TPQ.
Prospek pengembangan lembaga ini semakin kuat dengan melibatkan tenaga profesional dan kerja sama dengan berbagai pihak, seperti Istiqlal, LPMP Jawa Tengah, dan KPI (Konsorsium Pendidikan Islam Surabaya).
Melalui perjalanan panjang ini, LPI Hidayatullah Semarang hadir untuk mencetak generasi berakhlak mulia, cerdas, dan siap menjadi pemimpin masa depan yang membawa keberkahan bagi umat dan bangsa.
NILAI DASAR
Nilai-nilai utama (core values) yang diyakini, dianut, dan dikembangkan oleh LPI Hidayatullah Yayasan Abul Yatama adalah “Memadukan Zikir, Pikir, dan Ikhtiar”. Dengan demikian, budaya organisasi LPI Hidayatullah didasarkan pada keterpaduan dan keselarasan dimensi zikir, pikir, dan ikhtiar yang terimplementasi dalam setiap aktivitas seluruh warga LPI Hidayatullah dalam mewujudkan harapan, cita-cita, atau visinya.
Zikir merupakan representasi iman, yakni meyakini serta senantiasa mengingat Allah subhānaḥū wata`ālā dengan ketetapan-ketetapan-Nya. Hal ini akan melandasi motif/niat/tujuan setiap aktivitas. Pikir merupakan representasi ilmu, yakni mengilmui dan memahami apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ṣallallāḥu `alaihi wasallam serta sumber-sumber lain yang sahih yang akan melandasi tata cara/teknik/mekanisme yang benar dalam melaksanakan setiap aktivitas. Sedangkan Ikhtiar adalah representasi amal, yakni upaya/pilihan yang diselaraskan dengan iman dan ilmu yang kemudian melandasi konsistensi dalam melaksanakan setiap aktivitas agar tetap berada pada motif dan cara yang benar sehingga aktivitas tersebut tergolong pada amal saleh.
Dengan mendasarkan pada keselarasan antara zikir, pikir, dan ikhtiar, maka akan terjadi pula keseimbangan antara kekuatan hati, akal, dan jasad sehingga setiap aktivitas yang dikerjakan oleh warga LPI Hidayatullah menjelma menjadi amal salih yang berguna bagi diri sendiri, berdampak baik bagi orang lain dan lingkungan, dan menjadi investasi bernilai tinggi di dunia dan akhirat.
Sinergi zikir, pikir, dan ikhtiar; iman, ilmu, dan amal; atau kekuatan hati, akal, dan jasad berimplikasi bahwa LPI Hidayatullah harus mengembangkan konsep pendidikan yang religius, ilmiah, dan modern yang tercermin dalam kurikulum dan seluruh proses pembelajaran. Ukuran kesuksesan pendidikan bagi LPI Hidayatullah adalah kemuliaan akhlak sebagai cerminan kesempurnaan iman, kejernihan dan ketajaman berpikir sebagai cerminan keluasan ilmu, dan keikhlasan dalam setiap amal sebagai cerminan kebersihan hati nurani.
VISI
Membangun Generasi “GOLD” Menuju Insan Khairu Ummah
“GOLD” adalah akronim dari Genius, Obedient, Lead, and Dynamic. Adapun yang dimaksud dengan “Generasi Gold” adalah generasi yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
- Genius, yakni memiliki kecerdasan dan keluasan berpikir sehingga mampu menyerap banyak ilmu pengetahuan yang bermanfaat serta mampu menjadikannya sebagai bekal utama dalam beramal dan berkarya.
- Obedient, yakni memiliki ketaatan yang tulus dan ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya (taqwa) sehingga memiliki keteguhan di dalam memegang/mengemban amanah yang diberikan kepadanya baik berupa hidayah, ilmu/kecerdasan, jabatan, harta, atau yang lainnya dan tidak akan menyia-nyiakannya sedikit pun.
- Lead, adalah generasi yang memiliki jiwa kepemimpinan (leadership). Oleh karenanya, ia tidak hanya memperhatikan dan mengutamakan kepentingan pribadinya, akan tetapi ia akan menjadi sosok yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap orang lain dan lingkungannya.
- Dynamic, yakni generasi yang memiliki jiwa dinamis, tidak pernah ada keinginan untuk berhenti berkarya dan berprestasi, memiliki kreasi dan daya inovasi yang tinggi agar lebih optimal dalam memberikan kontribusi kepada keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Keempat karakter tersebut diharapkan tertanam di dalam diri setiap insan (siswa, guru, karyawan, dan seluruh pemangku kepentingan) LPI Hidayatullah yang akan terus tumbuh menjadi generasi khairu ummah di masa kini dan masa yang akan datang.
Indikator-Indikator Ketercapaian Visi
| Karakter | Kompetensi |
| Genius |
|
| Obedient |
|
| Lead |
|
| Dynamic |
|
Sederet kompetensi sebagai muara indikator-indikator “Generasi GOLD” tersebut merupakan bekal atau modal dasar bagi setiap peserta didik untuk tumbuh menjadi insan khairu ummah. Adapun ciri-cirinya dijelaskan sebagai berikut.
Frasa khairu ummah diambil dari Alquran surat Ali `Imran ayat 110 yang berarti “umat yang terbaik” atau “sebaik-baik umat”. Karakteristik atau indikator khairu ummah dijelaskan oleh Alquran (di ayat itu sendiri maupun di ayat-ayat lain) dan oleh Hadis Nabi Muhammad ṣallallāḥu `alaihi wasallam, sebagaimana diuraikan berikut.
1.Tiga indikator yang disebut di dalam Alquran surat Ali `Imran ayat 110:
- mengajak kepada kebaikan (amar ma`ruf);
- mencegah kemungkaran (nahi munkar); dan
- beriman kepada Allah.
2. Lima indikator yang termaktub di dalam Hadis riwayat Imam Ahmad, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Kaṡir ketika menafsirkan ayat 110 surat Ali `Imran:
- paling bagus bacaan Alqurannya dan paling banyak hafalan Alqurannya (mahir dalam Alquran), atau sering diartikan juga sebagai orang yang paling tenang;
- paling bertakwa kepada Allah;
- paling gemar mengajak kepada kebaikan (amar ma`ruf);
- paling gencar mencegah kemunkaran (nahi munkar); dan
- paling rajin menyambung tali persaudaraan (silaturrahim).
3. Indikator-indikator lain yang bersumber dari Hadis Nabi ṣallallāḥu `alaihi wasallam:
- mempelajari dan mengajarkan Alquran (H.R. Al-Bukhari);
- paling bermanfaat bagi manusia/orang lain (H.R. Ahmad dan Ṭabrani);
- paling baik kepada keluarga/kerabatnya (H.R. Tirmiżi);
- paling bagus akhlaknya (H.R. Bukhari dan Muslim); dan
- paling diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya (H.R. Tirmiżi).
Dapat diringkas bahwa khairu ummah memiliki enam indikator pokok berikut:
- mahir dalam Alquran dan memilki perangai yang tenang;
- bertakwa kepada Allah;
- bermental dai (gemar ber-amar ma’ruf nahi munkar);
- berakhlak mulia/terpuji;
- suka menyambung tali persaudaraan (silaturrahim); dan
- paling bermanfaat bagi sesama manusia (orang lain).
MISI
- Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif berwawasan iman dan takwa (IMTAK) dan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS);
- Menumbuhkembangkan fitrah manusia menjadi generasi qurani yang cerdas, bertakwa, berjiwa pemimpin, dan dinamis sebagai ciri dasar khairu ummah (umat terbaik);
- Mendorong dan memfasilitasi peserta didik, guru, karyawan, dan pengelola untuk selalu belajar dan mengembangkan diri hingga meraih manfaat dan prestasi yang tinggi;
- Menyebarluaskan pendidikan yang berkarakter dengan berbasis Islam rahmatan lil`ālamin di tingkat nasional dan global.
TUJUAN
- Menjadikan sekolah-sekolah di bawah naungan LPI Hidayatullah sebagai sekolah unggul, pilihan umat Islam di Kota Semarang dan sekitarnya;
- Membina dan mengembangkan potensi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berkompetensi tinggi, dan profesional;
- Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis nilai-nilai Islami;
- Mendukung pembangunan masyarakat yang religius, cinta ilmu, cinta damai, dan bermartabat.
