SEMARANG – Untuk pengantar kajian Ustadz Fachrudin Aziz menyampaikan bahwa: Pertama, Jika seseorang dimudahkan melakukan kebaikan atau diringankan itu adalah ciri-ciri seseorang itu diberikan kemuliaan oleh Allah Ta’ala. Contohnya dimudahkan melangkahkan kaki berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat subuh. Namun hal itu kurang disadari karena sering manusia terjebak pada sekedar melakukan rutinitas. Seperti halnya nikmatnya bisa bernafas dengan normal sering tidak disadari bahwa itu adalah kenikmatan. Nikmat itu baru dirasakan setelah seseorang terkena penyakit covid yang hanya sekedar menguap saja sang terbatas dan merasakan sakit.

Kedua, Jika seseorang mau berdoa dengan penuh keyakinan kepada Allah Ta’ala pasti kabulkan. Ada dua bentuk pengkabulan doa oleh Allah Ta’ala, yaitu diijabah dan diistijabah. Ijabah adalah Allah Ta’ala memberikan sesuai dengan apa yang kita minta, sedangkan istijabah adalah keinginan kita dibelokkan oleh Allah Ta’ala karena Allah lebih mengetahui akan kebutuhan kita. Jadi doa yang baik dan dilakukan dengan baik pasti Allah kabulkan. Termasuk pentingnya doa dalam menuntut ilmu, karena menuntut ilmu tidak cukup dengan mengandalkan kecerdasan. Yang memudahkan seseorang menuntut ilmu adalah Allah Ta’ala. Godaan mencari ilmu adalah sangat berat , tidak hanya bagi seorang murid tetapi juga bagi seorang guru. Godaan bagi seorang adalah ketika menghadapi murid yang lemah dari sisi akal dan lemah dari sisi mentalnya. Oleh karena itu dibutuhkan kesabaran dan Do’a seorang guru kepada murid-muridnya. Dengan Do’a, Allah Ta’ala akan memudahkan untuk anak-anak bisa ditata hati, perilaku, dan akalnya mudah untuk menyerap ilmu.

Dalam membahas kitab Ta’lim Muta’alim Ustadz Fachrudin Aziz menyampaikan bahwa tidak ada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, pada hakekanya semua ilmu adalah ilmu agama karena semua ujungnya adalah mengungkap kebesaran Allah Ta’ala. Di dalam kitab Ta’lim Muta’alim disebutkan ilmu tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk menafsir atau menyingkap ayat-ayat Al Qur’an dengan sempurna. Dengan ilmu tafsir seseorang mampu mengungkap atau mengetahui maksud ayat-ayat Al Qur’an. Sedangkan ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum-hukum agama. Secara rinci Imam Abu Hanifah berkata: “ Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui mana yang berguna bagi seseorang dan mana yang membahayakan”. Beliau Imam Abu Hanifah juga berkata: “Tidak ada ilmu kecuali untuk diamalkan, sedang mengamalkannya berarti meninggalkan dunia dan meraih kebahagiaan akhirat”

Ketika menjawab pertanyaan peserta kajian, tentang mengapa kita tidak belajar langsung dari Al Qur’an saja. Beliau Ustadz Fachrudin Aziz menjawab dengan analogi ibarat di dalam lapangan sekolah terkandung emas, maka tidak mungkin kita akan melakukan sendiri untuk menambangnya, tentu saja kita akan memanggil ahlinya beserta segala perangkat yang digunakan untuk menambangnya. Demikian juga dengan Al Qur’an, kita membutuhkan Hadist Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam karena Nabi adalah penafsir Al Qur’an yang pertama, dan kita tidak bisa langsung belajar dari Nabi karena jarak kita dengan Nabi sangat jauh, sehingga dibutuhkan para ulama.

Pertanyaan juga disampaikan tentang derajat doa seorang guru terhadap muridnya. Beliau menjawab, derajat doa guru yang tulus ikhlas terhadap muridnya seperti doanya seorang ibu kepada anaknya. Oleh karena itu beliau berpesan agar kita sebagai seorang guru untuk selalu mendoakan murid-murdnya, minimal ketika selesai melaksanakan sholat.

( kajian berlanjut….)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!