Ta’lim arti nya adalah Pengajaran, dan al muta’alim artinya adalah orang yang belajar. Oleh karena itu, di kitab ini kita di pandu untuk mengerti bagaimana adab seseorang mencari ilmu. Muta’alim itu tidak hanya tentang apa yang kita baca, maka dari itu ilmu memiliki banyak hal. Ada seseorang yang pintar karena banyak belajar dan latihan, namun ada pula yang pintas karena seringnya ia mushohabah bil ulama. Mushohabah bil ulama yang berarti ia berkhidmah kepada para ulama. Jadi, puncak dari ilmu agama adalah adab. Adab memiliki 2 macam yaitu aamanu dan wa ‘amilus saali haati. Aamanu adalah hubungan kita kepada Allah SWT, dan wa ‘amilus saali haati adalah hubungannya kepada sesama makhluk Allah.

Ta’limul muta’alim adalah antara guru dengan muridnya bisa saling mengisi. Guru yang baik tidak hanya mengajarkan ilmu kepada muridnya, tidak sebatas mengajar secara formal saja, namun penting untuk guru bila di dalam doanya juga menyebut nama muridnya. Banyak orang melakukan pembelajaran namun kering akan nilai – nilai spiritual.

Tidak ada ilmu umum, yang ada adalah ilmu agama, dan Ilmu agama meliputi semua ilmu yang di tempuh melalui berbagai jalur.  Ilmu itu soal spiritual, bila kita ingin anak kita itu menjadi pintar, maka tekan kan pembelajaran adab kepada anak kita.  Orang yang berilmu maka Allah lancarkan segala rizky nya. Dikatakan oleh Iman zarnuji  bahwa Ilmu harus berdimensi vertikal dan horizontal ilmu itu bernilai ibadah bukan sekedar untuk bekerja. Orang tidak akan mendapat keberkahan dalam ilmunya ketika kegiatan pendidikan dan pengajaran hanya menjadi rutinitas

Kisah Imam syafi’i ketika bertemu dengan seseorang alim yang beliau rasa kurang cocok, beliau tidak langsung mengutarakan ketidak cocokannya dalam menyampaikan ilmu, lalu beliau mengajak seorang alim tersebut bertemu, setelah itu beliau mengajaknya untuk bersaudara dan memberi pesan bahwa walaupun ada perbedaan pendapat mengenai ilmu lantas jangan jadikan ilmu itu sebagai fitnah.

Seseorang dinaikkan derajatmya oleh Allah dengan tiga cara :

  1. Di naikkan derajatnya dengan kesusahan di dunia, namun di akhirat di beri nikmat
  2. Di naikkan derajatnya dengan nikmat di dunia dan di beri nikmat pula di akhirat
  3. Dinaikkan derajatnya dengan ketaatannya

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!