Sabtu, 23 Oktober 2021- Pada awal kajian Ustadz Fachrudin Aziz menyampaikan bahwa rejeki yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia tidak hanya bersifat kuwantitatif, akan tetapi lebih pada hal yang bersifat kwalitatif. Contohnya karunia berupa dimudahkannya manusia untuk berbuat kebaikan adalah rejeki dari Allah Ta’ala, karena ciri sesorang diberikan kemuliaan oleh Allah Ta’ala adalah dimudahkannya seseorang untuk melakukan kebaikan. Contoh ada kisah ada seorang penjual koran dalam waktu hampir satu hari hanya bisa menjual satu eksemplar koran. Ketika ada seseorang yang menanyakan apa yang dirasakan, maka si penjual koran mengatakan bahwa kesabaran dan doa adalah bagian rejeki yang diberikan Allah ta’ala.

Pelajaran yang bisa diambil bagi seorang guru adalah pentingnya tentang menata niat dalam belajar dan mengajar. Di dalam hadist ‘innamal a’malu binniyat’ , ada dua rahasia dalam hadist tentang niat tersebut yaitu:

  1. Digunakannya redaksi innama, bukan inna;

Innama terkandung makna superlativ yaitu menegaskan pengertian atau kalimat sesudahnya dan menafikan selainnya.

  1. Digunakan a’malu bukan af’alu.

A’malu menunjukan amal perbuatan fisik yang melibatkan hati, sedangkan af’alau hanya dilihat dari gerak fisik saja.

Pentingnya niat sangat menentukan prestasi hidup yang dihasilkan. Dengan niat yang benar bisa sekaligus mendapatkan banyak sekali kebaikan.

Rahmat-Nya Allah Ta’ala sangat dekat dengan orang-orang mukhlisin yaitu orang-orang yang benar dalam menata niatnya. Contoh sederhana kita membeli keripik pisang sepuluh ribu rupiah kepada orang yang berjualan dalam keadaan kepayahan, kalau membelinya diniatkan untuk berbagi maka kita akan mendapatkan pahala ukhrowi. Amal yang kelihatannya seperti amal duniawi karena niat dan keikhlasan bisa menjadi amal ukhrowi dan bisa menjadi pahala untuk akhirat. Dan bisa menjadi sebaliknya amalan yang kelihatannya sebagai amalan ukhrowi tetapi tidak mendapatkan pahala tetapi justru mendapatkan fitnah jika keliru dalam menata niatnya.

Dalam kitab Ta’lim al muta’alim disebutkan ilmu seseorang akan semakin bertambah apabila diajarkan kepada orang lain. Orang yang mengajarkan ilmu  dengan niat yang benar hidupnya akan mendapatkan ridho dari Allah Ta’ala. Sedangkan hidup kalau sudah mendapat ridho dari Allah Ta’ala maka menjalani kehidupan sangat mudah karena hidupnya ditata oleh Allah Ta’ala.

Tentang zuhud itu bukan berarti menjahui dunia, akan tetapi dunia tidak sampai melupakan Allah Ta’ala. Dan sebaliknya zuhud adalah bagaimana selalu membelokan dunia ke arah kiblat atau dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala.

( kajian berlanjut….)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!