Sabtu, tanggal 30 Oktober 2021-Pada kajian keenam Hadits Arba’in Nawawi, Habib Jakfar Al Musaawa masih melanjutkan pembahasan hadits kedua tentang ihsan. Berikut penggalan hadits yang Beliau sampaikan:

“……..Lalu orang itu bertanya lagi: “Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau”.

Habib Jakfar Al Mussawa menjelaskan, sebagian besar ulama mengatakan bahwa pengertian ihsan adalah ikhlas yang artinya murni yang tidak tercampur dengan yang lain. Hadist ini mengarahkan seseorang untuk menjadi lebih baik dan semakin baik. Awalnya sebagai seorang Islam yang hanya sekedar menjalankan tugas ibadah, kemudian meningkat menjadi orang yang beriman yaitu orang yang menjalankan ibadah sebagai kebutuhan karena sudah mengilmui dan meyakini. Orang beriman kalau meninggalkan ibadah ada rasa penyesalan. Dari iman naik lagi menjadi ihsan yaitu orang yang menjalankan ibadah seolah-olah melihat Allah Ta’ala, sehingga dalam beribadah sangat bersungguh-sungguh karena dihadapannya ada Allah Ta’ala. Orang yang sudah berada dalam tingkatan ihsan kalau berdzikir dan beribadah bersungguh-sungguh dengan adab-adab yang benar. Orang yang ihsan senantiasa melakukan yang terbaik untuk Allah Ta’ala karena keyakinannya bahwa Allah Ta’ala selalu melihatnya dan pasti akan membalas amal perbuatannya.

Sebuah amal dikatakan hasan/ihsan cukup jika diniati ikhlas karena Allah, adapun selebihnya adalah kesempurnaan ihsan. Kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan:

  1. Maqom Muraqobah yaitu senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktifitasnya, kedudukan yang lebih tinggi lagi.
  2. Maqom Musyahadah yaitu senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut.

Sedangkan ikhlasnya seseorang dalam melakukan amal perbuatan atau ibadah ada tiga tingkatan:

  1. Ikhlas agar setiap urusannya dimudahkan Allah Ta’ala;
  2. Ikhlas supaya kelak dimasukkan surga dan tidak dimasukkan neraka;
  3. Ikhlas hanya semata-mata mengharap ridho Allah Subhanahu Wata’ala.

Pada akhir kajian ditutup dengan hadist yang menerangkan tentang hari kiamat yang ditanyakan kepada Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam:

Orang itu berkata lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: “Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: “Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi shollallohu ‟alaihi wasallam bersabda: “Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: “Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim).

(kajian berlanjut….)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!