
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Dari SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) dan SD Islam Hidayatullah (SDIH), gema lantunan ayat suci mengalun dalam kegiatan Tasmi’ Tahfidzul Qur’an, menghadirkan rasa haru sekaligus bangga atas kesungguhan para siswa dalam menjaga dan menghafal kalam Allah. Pembelajaran Al-Qur’an di Hidayatullah bukan sekadar hafalan, tetapi juga pembinaan adab dan keteladanan.
Sementara itu, SD Islam Hidayatullah 02 menghadirkan suasana ceria lewat kegiatan Fun Class — pembelajaran yang dikemas dengan permainan edukatif, melatih kreativitas dan kerja sama siswa sambil menanamkan nilai-nilai kemandirian dan kepedulian.
Di sisi lain, PAUD Islam Hidayatullah melaksanakan supervisi eksternal pembelajaran Al-Qur’an sebagai bentuk upaya menjaga kualitas mutu pengajaran. Langkah ini membuktikan komitmen Hidayatullah bahwa pendidikan Al-Qur’an harus senantiasa dikawal dengan standar dan evaluasi yang profesional.
Adapun dari Warta QLC, pekan ini kajian membahas tentang akikah, salah satu syiar Islam yang penuh makna. Kajian ini menegaskan pentingnya melaksanakan ibadah dengan pemahaman yang benar dan niat yang ikhlas, sebagai bentuk syukur atas amanah kehidupan yang Allah berikan.
Dan melalui Tajuk Redaksi edisi ini, kami mengangkat tema “AI: Pisau Super Tajam di Tangan Manusia.” Sebuah refleksi tentang bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi alat luar biasa jika digunakan dengan adab dan tanggung jawab—serta bagaimana Islam memberi arah agar teknologi menjadi pelayan kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Semoga setiap langkah inovasi dan pembinaan di lingkungan Hidayatullah senantiasa berada dalam bimbingan Allah, melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan santun dalam moral.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
🖋️ Redaksi E-Buletin Hidayatullah
Warta terkini perkembangan sekolah & kegiatan siswa selama sepekan yang dirangkum dalam buletin online informatif dan mudah diakses kapan saja dengan akses internet.
PEMBUKAAN SPMB TAHUN AJARAN 2026/2027
Eko Wahyu D., M.Pd.
Adi Suipto, S.Pd.
Suci Wulansari, M.Pd.
Pimpinan Redaksi
Tarto, M.Pd.
Dewan Redaksi
Videa Salsabila W., S.K.M.
Devi Anggraini, S.M.
Yasiva Ayu P., S.Pd.
Kontributor:
Kehumasan PAUDIH
Kehumasan SDIH
Kehumasan SDIH 02
Kehumasan SMPIH
Kehumasan SMAIH
SMA Islam Hidayatullah meneguhkan komitmennya mencetak generasi Qur’ani melalui kegiatan Tasmi Tahfidzul Qur’an — ajang muroja’ah dan penguatan kecintaan siswa terhadap Al Qur’an bersama guru dan orang tua.
✨ Edufair SMP Islam Hidayatullah 2025
SMP Islam Hidayatullah menggelar Edufair sebagai ajang kreativitas dan inovasi siswa kelas VIII dan IX. Melalui pameran projek digital seperti game edukatif, animasi, dan karya interaktif berbasis iPad, siswa menunjukkan semangat belajar yang kreatif dan menyenangkan dalam rangkaian kegiatan SIHIA 2025.
Anak-anak SD Islam Hidayatullah memperdengarkan hafalan mereka dalam kegiatan Tasmi’ Al-Qur’an yang digelar bertahap. Kegiatan ini bukan sekadar ajang menguji hafalan, tapi juga menumbuhkan rasa cinta, tanggung jawab, dan kebanggaan dalam menjaga ayat-ayat Allah...🌿
Anak-anak TK dari berbagai sekolah di sekitar SDIH 02 diajak bermain sambil belajar lewat kegiatan Fun Class. Mereka membuat prakarya, bermain games, dan mengenal lingkungan SD dengan cara yang seru dan menyenangkan.. 🌟
Sebagai Sekolah Model Percontohan Metode Ummi se-Jawa Tengah, PAUD Islam Hidayatullah terus berkomitmen menjaga kualitas bacaan, cara mengajar, serta keikhlasan para pendidik dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an
Akiqah: menyambut Anak dengan Syukur dan Akhlak
Habib Hasan Al Jufri dalam pembinaan pengabdi LPI Hidayatullah mengingatkan pentingnya aqiqah sebagai bentuk syukur dan doa bagi anak, sekaligus ajakan bagi orang tua untuk menanamkan iman dan akhlak...
AI: Pisau Super Tajam di Tangan Manusia
Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi bagian dari kehidupan modern—hadir di ruang kerja, sekolah, hingga rumah tangga. Ia bagaikan pisau super tajam yang tergeletak di ruang terbuka, bisa diambil dan digunakan oleh siapa pun. Seperti halnya pisau, AI dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk memudahkan hidup manusia, namun juga bisa menjadi alat yang berbahaya jika digunakan tanpa tanggung jawab.
Dalam pandangan Islam, setiap alat dan ilmu adalah amanah, bukan ancaman. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Prinsip ini mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi seharusnya membuat manusia lebih bijak, bukan lebih lalai.
AI membuka peluang besar dalam dunia pendidikan dan dakwah. Dengan teknologi ini, pembelajaran menjadi lebih interaktif, riset semakin mudah, dan penyebaran ilmu bisa menjangkau lebih luas. AI dapat menjadi pelayan ilmu, bukan pengganti akal manusia. Namun di sisi lain, AI juga menyimpan tantangan—dari penyalahgunaan informasi, plagiarisme, hingga hilangnya nilai orisinalitas dan adab digital.
Oleh karena itu, akhlak menjadi pagar utama dalam pemanfaatan teknologi. Tanpa nilai moral, kecerdasan buatan bisa menjerumuskan lebih dalam dari sekadar kesalahan logika. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter digital—mengajarkan bahwa inovasi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab.
Islam selalu mendorong umatnya untuk maju dalam ilmu dan teknologi, selama digunakan untuk kemaslahatan. AI bukanlah lawan, melainkan sahabat dalam beramal. Seperti pisau tajam di tangan orang bijak, AI akan membawa manfaat besar. Namun di tangan yang lalai, ia bisa melukai. Mari gunakan kecerdasan buatan dengan niat ibadah, adab, dan amanah—agar teknologi benar-benar menjadi jalan menuju keberkahan, bukan kebinasaan.
"Kecerdasan sejati bukanlah pada mesin yang berpikir, tetapi pada manusia yang mampu menggunakan pikirannya dengan bijak.
Redaksi E-Buletin Hidayatullah
SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) kembali menunjukkan keseriusannya dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga kuat dalam nilai-nilai Islam. Salah satu program unggulannya adalah “Mahir Al Qur’an”, yang menjadi bagian penting dari jaminan mutu pendidikan di SMAHA.
Sebagai bagian dari program tersebut, sekolah menggelar kegiatan Tasmi Tahfidzul Qur’an, yaitu ajang muroja’ah (mengulang hafalan) dalam satu majelis. Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin–Selasa, 20–21 Oktober 2025, dan diikuti oleh para siswa penghafal Al Qur’an dari berbagai jenjang.
Selama kegiatan berlangsung, peserta membacakan hafalan dari juz 1 hingga juz 11, serta juz 30, di hadapan para guru pendamping dan orang tua. Suasana penuh khidmat, namun tetap hangat, mewarnai kegiatan ini.
Ustadzah Miskiyatul Fudlolah, A.H., selaku Koordinator Bidang Tahfidz, menjelaskan bahwa Tasmi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarana melatih konsistensi dan memperkuat hafalan.
“Tahun ini ada 64 peserta dari kelas X hingga XII. Jumlahnya naik sekitar 50% dari tahun lalu. Ada yang tasmi satu juz, dua juz, bahkan sampai sepuluh juz,” ungkap beliau dengan senyum bangga.
Menurut beliau, Tasmi menjadi ajang penting bagi siswa untuk menguji ketelitian, kesabaran, dan keberanian dalam menjaga amanah hafalan Al Qur’an.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan positif dari para orang tua.
Salah satunya, Ibu Indah Mochrifiyanti, S.E., orang tua dari Nabila Trayunda (X-5), menyampaikan rasa syukurnya.
“Tasmi ini jadi nilai lebih bagi SMAHA. Memiliki anak yang mencintai dan menghafal Al Qur’an adalah kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Kami pun merasa bangga bisa dilibatkan langsung dalam prosesnya,” ujarnya.
Bagi banyak keluarga, kegiatan seperti ini tidak hanya mempererat hubungan anak dan orang tua, tetapi juga menghadirkan suasana rumah yang lebih dekat dengan Al Qur’an.
Melalui kegiatan Tasmi Tahfidzul Qur’an, SMAHA terus meneguhkan diri sebagai sekolah Islam unggul di Jawa Tengah yang tak hanya mengejar prestasi akademik, tapi juga membentuk karakter Qur’ani di setiap siswanya.
Kegiatan seperti ini menjadi bukti nyata bahwa di SMAHA, kecintaan terhadap Al Qur’an bukan sekadar slogan, tapi budaya belajar yang hidup dan menginspirasi.
SMP Islam Hidayatullah
SMP Islam Hidayatullah menggelar kegiatan Edufair sebagai bagian dari rangkaian acara SMP Islam Hidayatullah in Action (SIHIA) 2025, yang berlangsung pada Jumat–Sabtu, 24–25 Oktober 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas VIII dan IX dan dilaksanakan di area depan Aula SMP–SMA Islam Hidayatullah.
Kelas IX tampil pada hari Jumat, sementara kelas VIII melanjutkan pada hari Sabtu, mulai pukul 07.00 hingga 10.30 WIB.
Dalam kegiatan ini, para siswa menampilkan berbagai projek kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan beragam aplikasi digital seperti Keynote, Pages, Book Creator, GarageBand, Procreate, Reality Composer, dan aplikasi berbasis iPad lainnya.
Beberapa karya menarik di antaranya:
Stan-stan projek tersebut ramai dikunjungi oleh guru, siswa, dan orang tua dari sekolah dasar sekitar Banyumanik yang hadir dalam rangkaian lomba SIHIA 2025.
Suasana ceria tampak di wajah para peserta dan pengunjung, terutama saat mereka mendapatkan hadiah dan suvenir menarik di setiap stan.
“Senang, tertantang, dan bangga!” — Javier, siswa kelas 9A SMP Islam Hidayatullah.
Koordinator Edufair, Ibu Rusmi, S.Pd., menyampaikan apresiasinya,
“Alhamdulillah, dalam ajang ini anak-anak mampu menampilkan karya-karya yang kreatif dan menarik. Semoga mereka bisa terus mengeksplor lebih dalam aplikasi-aplikasi digital, khususnya iPad, agar edufair ke depan bisa lebih ‘wow’ lagi.”
Melalui Edufair ini, SMP Islam Hidayatullah menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Tidak hanya berfokus pada akademik, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi siswa untuk berani bereksperimen, berkreasi, dan menunjukkan potensi terbaik mereka di era digital.

SD ISLAM HIDAYATULLAH

SD Islam Hidayatullah Semarang terus berkomitmen dalam membangun generasi GOLD (Genius, Obedient, Lead, Dynamic) — generasi unggul yang cerdas, taat, berjiwa pemimpin, dan dinamis. Salah satu bentuk nyata dari komitmen ini adalah kegiatan Tasmi’, yaitu ujian hafalan Al-Qur’an di mana murid membacakan hafalannya di hadapan penguji atau audiens dalam satu kali duduk.
Kata tasmi’ berasal dari bahasa Arab sami’a – yasma’u – tasmi’an yang berarti “mendengarkan”. Dalam konteks pembelajaran Al-Qur’an, kegiatan ini mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan rasa tanggung jawab dalam menjaga hafalan.
Tahun 2025 ini, kegiatan Tasmi’ dilaksanakan dalam tiga sesi. Sesi pertama pada Sabtu, 25 Oktober 2025 diikuti oleh 33 murid. Sesi kedua pada Sabtu, 1 November 2025 diikuti 69 murid, dan sesi ketiga pada Sabtu, 8 November 2025 juga diikuti 69 murid. Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari kelas atas (kelas 4–6), tetapi juga dari kelas bawah (kelas 1–3) yang mulai menunjukkan semangat luar biasa dalam menjaga hafalan mereka.
Di bawah koordinator Ustazah Arna Ariyani, S.Pd. dan Ustazah Ida Farida, S.Pd.I., program pembinaan Al-Qur’an (BAQ) di SD Islam Hidayatullah terus berkembang. Beberapa murid bahkan telah menyelesaikan hafalan hingga tujuh juz — hasil dari kerja keras, disiplin, dan kolaborasi antara guru dan orang tua di rumah.
Kegiatan Tasmi’ Akbar tahun ini dipusatkan di Musala SD Islam Hidayatullah, lantai tiga. Pada sesi pertama, tampak para murid duduk berkelompok di hadapan 18 penguji. Setiap anak memperdengarkan hafalannya di hadapan penguji dan orang tua yang hadir sebagai pendengar.
Suasana begitu khidmat saat ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dengan tartil. Beberapa orang tua tampak menitikkan air mata haru melihat anaknya mampu membaca hafalan dengan lancar. Kegiatan ini bukan sekadar ujian, tetapi juga ajang pembinaan karakter, melatih kepercayaan diri, dan membangun kebiasaan berani tampil dengan adab yang baik.
Kepala SD Islam Hidayatullah Semarang, Ibu Robi’ah Peni Raharjanti, S.Si., menyampaikan bahwa kegiatan Tasmi’ menjadi momen penting yang mempertemukan tiga unsur penting pendidikan: murid, guru, dan orang tua.
“Melalui kegiatan ini, orang tua dapat menyimak langsung hafalan anak-anaknya. Ini menjadi bentuk apresiasi terhadap proses belajar mereka sekaligus motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an,” ujar beliau.
Tasmi’ bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Harapannya, setiap murid di SD Islam Hidayatullah tidak hanya mampu menghafal isi Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam bersikap dan berakhlak mulia.
✨ Semoga generasi GOLD Hidayatullah tumbuh menjadi insan Qur’ani yang membawa cahaya kebaikan bagi umat.
SD ISLAM HIDAYATULLAH 02
SD Islam Hidayatullah 02 kembali mengadakan kegiatan Fun Class, sebuah program interaktif yang dirancang untuk memperkenalkan suasana belajar di sekolah dasar kepada anak-anak TK.
Kegiatan ini berlangsung setiap Rabu, Kamis, dan Jumat, mulai 8 Oktober hingga 6 November 2025, dan diikuti oleh murid-murid kelompok B dari TK ABA 39, TK Islam Hidayatullah, TK Islam Widya Bhakti Rini, dan TK ABA 44.
Melalui kegiatan ini, sekolah ingin menjalin silaturahmi dengan lembaga-lembaga TK di sekitar lingkungan SDIH 02 sekaligus membantu anak-anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah dasar sebagai tahap awal menuju jenjang SD.
Selain pengenalan ruang kelas dan lingkungan sekolah, anak-anak juga diajak membuat prakarya, bermain games, hingga melakukan simulasi jual beli sederhana. Semua dirancang agar mereka belajar dengan cara yang menyenangkan.
Ketua panitia, Bu Iin, menjelaskan bahwa kegiatan berjalan dengan suasana yang penuh keceriaan.
“Suasananya menyenangkan, karena memang untuk anak-anak. Mereka dikenalkan pada lingkungan SD, membuat prakarya, main games, dan melakukan transaksi jual beli. Jadi mereka bermain sambil belajar,” ujarnya.
Sementara itu, Bu Asa, guru pendamping dari TK Islam Widya Bhakti Rini, juga menyampaikan kesannya.
“Kegiatan kunjungan ini menyenangkan. Alhamdulillah, terlaksana dengan baik,” tuturnya.
Melalui Fun Class, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga mendapatkan pengalaman pertama mereka dalam dunia sekolah dasar.
Mereka belajar berinteraksi, mengikuti aturan sederhana, dan mencoba hal-hal baru dengan cara yang ceria.
Kegiatan ini pun mendapat sambutan positif dari guru dan orang tua. Banyak yang berharap Fun Class bisa menjadi agenda tahunan di SD Islam Hidayatullah 02 sebagai bagian dari upaya membangun pengalaman belajar yang bermakna sejak dini.
Kamis, 16 Oktober 2025, menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar PAUD Islam Hidayatullah Banyumanik. Hari itu, sekolah mendapat kunjungan supervisi eksternal dari Ummi Foundation Surabaya, lembaga pengembang Metode Ummi, sebuah metode pembelajaran Al-Qur’an yang menekankan bacaan tartil, menyenangkan, dan mudah dipahami anak-anak.
Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Ustadz Wahyudi, S.Th.I., perwakilan resmi dari Ummi Foundation. Beliau meninjau proses pembelajaran Al-Qur’an di seluruh jenjang, mulai dari Kelompok Bermain (KB) hingga TK A dan TK B.
Kegiatan berlangsung dari pukul 07.30 hingga 11.30 WIB, dengan jadwal bergiliran untuk setiap kelompok. Selama supervisi, Ustadz Wahyudi didampingi oleh Ustadzah Nofa Edi Yuliane, S.Pd.I. (Divisi Internal PAUD, SDIH, dan SDIH 02) serta Ustadzah Diyan Fatmawati, S.Th.I. (Koordinator Al-Qur’an KB-TK Islam Hidayatullah).
Supervisi ini bukan sekadar penilaian, tapi juga bentuk pendampingan profesional dari Ummi Foundation untuk memastikan mutu pembelajaran tetap terjaga.
Sebagai Sekolah Model Percontohan Metode Ummi se-Jawa Tengah, PAUD Islam Hidayatullah terus berkomitmen menjaga kualitas bacaan, cara mengajar, serta keikhlasan para pendidik dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.
Metode Ummi sendiri berpegang pada tiga prinsip utama: mudah, menyenangkan, dan menyentuh hati.
Selama kegiatan, Ustadz Wahyudi melihat langsung bagaimana guru-guru mengajar dengan penuh kesabaran dan kehangatan. Setiap kelas tampak hidup — anak-anak fokus, guru sabar mendampingi, dan sesekali diselingi ice breaking agar suasana tetap segar.
Dalam sesi evaluasi, Ustadz Wahyudi menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim guru PAUD Islam Hidayatullah.
“Pembelajaran mengaji di KB-TK Islam Hidayatullah sudah sangat baik. Pengelompokan siswa sudah tepat, jumlah guru dan murid seimbang, dan para guru menunjukkan profesionalisme yang tinggi,” ujarnya.
Beliau juga menambahkan bahwa guru-guru di Hidayatullah sudah mencerminkan moto Ummi Foundation dengan baik — “Mengaji dengan Mudah, Menyenangkan, dan Menyentuh Hati.”
Menurutnya, suasana belajar yang penuh keceriaan dan kedekatan emosional inilah yang menjadi kekuatan utama metode Ummi.
Dengan adanya supervisi ini, PAUD Islam Hidayatullah berharap dapat terus menjaga kualitas dan semangat dalam mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang cinta Al-Qur’an, berakhlak baik, dan berjiwa lembut. 🌿
🌿 Warta QLC/Hikmah
Pada Sabtu, 25 Oktober 2025, LPI Hidayatullah bersama Yayasan Abul Yatama Semarang kembali mengadakan pembinaan pengabdi bersama Habib Hasan Al Jufri.
Dalam pembinaan kali ini, beliau mengangkat tema seputar akhlak, aqiqah, dan pentingnya pondasi dasar pendidikan Islam bagi anak.
Habib Hasan mengawali kajian dengan mengingatkan kondisi masyarakat Arab pra-Islam yang dikenal sebagai masa jahiliah — masa ketika moral dan akidah manusia berada dalam kegelapan.
Islam kemudian datang membawa cahaya, memperbaiki akhlak, dan menuntun manusia menuju jalan yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad no. 8952)
Perubahan besar itu dimulai dari hal-hal mendasar dalam keluarga: memberi nama yang baik, menyambut kelahiran anak dengan aqiqah, dan menanamkan iman sejak dini.
Habib Hasan menjelaskan, setiap anak yang lahir membawa fitrah (kesucian) sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)
Sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak, Islam mensyariatkan aqiqah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan (hewan) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud no. 2838, Tirmidzi no. 1522 – dinilai hasan shahih)
Aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh kelahiran anak dengan dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.
Boleh menggunakan kambing betina, namun yang jantan lebih utama sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar.
Selain sebagai bentuk syukur, aqiqah juga memiliki dimensi sosial. Dagingnya dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan fakir miskin sebagai bentuk kepedulian dan doa bersama untuk sang anak.
Habib Hasan juga menyinggung fenomena anak-anak usia sekolah yang belum memahami rukun Islam dan rukun iman.
Padahal, menurut beliau, pondasi inilah yang menentukan arah kehidupan mereka kelak.
“Anak-anak sekarang banyak yang cerdas, tapi belum tentu paham syahadat, shalat, dan makna ibadah. Padahal, itu pondasi utama yang harus ditanamkan di rumah dan di sekolah,” ujar beliau.
Beliau menegaskan pentingnya keteladanan orang tua dan guru, karena anak belajar bukan hanya dari perkataan, tetapi juga dari contoh nyata dalam keseharian.
Menutup pembinaan, Habib Hasan mengingatkan pesan Rasulullah ﷺ tentang pentingnya menjaga amal dan niat.
“Sebagaimana engkau berbuat, begitu pula Allah membalasmu.” (HR. Muslim no. 2577)
Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi besar di sisi Allah, sementara ibadah besar tanpa keikhlasan takkan bernilai.
Begitu pula dalam mendidik anak: sekecil apa pun usaha orang tua dalam menanamkan iman dan akhlak, akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Aqiqah bukan sekadar tradisi, tapi manifestasi cinta dan doa orang tua untuk anaknya.
Dengan aqiqah, anak diberi identitas, keberkahan, dan doa keselamatan.
Dengan pendidikan iman dan akhlak, anak dibekali arah hidup yang lurus.
Keduanya berjalan beriringan — menjadi pondasi kokoh bagi lahirnya generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.