Kata Pengantar Redaksi

Audio
📖
Edisi Lalu
🏠
Home

Edisi VIII – Apakah Pendidikan Karakter Masih Relevan di Zaman Sekarang?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Edisi ke-8 e-Buletin Hidayatullah kali ini mengangkat tema penting: “Apakah Pendidikan Karakter Masih Relevan di Zaman Sekarang?”


Jawabannya tentu: sangat relevan. Di tengah kemajuan teknologi, karakter tetap menjadi fondasi utama pendidikan Islam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ yang diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Pekan ini diwarnai dengan beragam kegiatan inspiratif dari setiap unit sekolah.


Di SMAHA, hadir gebrakan baru yang kreatif dan sarat nilai dakwah.


Di SMP, seni batik dipadukan dengan teknologi digital — perpaduan budaya dan inovasi yang membangun karakter kreatif.


Dari SD Islam Hidayatullah 1 dan 2, siswa belajar langsung dari dunia nyata lewat kunjungan ke Brimob, Perpustakaan Provinsi, hingga Fakultas Kedokteran.


Sementara TK Islam Hidayatullah ikut kegiatan “Ayo Membatik Bersama IGTKI Kota Semarang” yang seru dan edukatif.

Dalam pembinaan pengabdi (Warta QLC), para guru mendalami Asy-Syamāil al-Muhammadiyyah, meneladani kesederhanaan Rasulullah dalam makan dan bersyukur — pengingat bahwa karakter mulia dimulai dari kebiasaan sederhana.

Semoga edisi ini menguatkan kembali semangat kita untuk menjadikan pendidikan karakter sebagai jantung dari pembelajaran Islam modern.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Redaksi


E-Buletin LPI Hidayatullah Semarang

Warta terkini perkembangan sekolah & kegiatan siswa selama sepekan yang dirangkum dalam buletin online informatif dan mudah diakses kapan saja dengan akses internet.

PEMBUKAAN SPMB TAHUN AJARAN 2026/2027

🎉 DAFTAR LEBIH CEPAT, BIAYA LEBIH HEMAT 🎉 DAFTAR LEBIH CEPAT, BIAYA LEBIH HEMAT 🎉 DAFTAR LEBIH CEPAT, BIAYA LEBIH HEMAT 🎉



Penasihat

Eko Wahyu D., M.Pd.

Adi Suipto, S.Pd.

TIM REDAKSI


Penanggung Jawab:

Suci Wulansari, M.Pd.


Pimpinan Redaksi

Tarto, M.Pd.

Dewan Redaksi

Videa Salsabila W., S.K.M.

Devi Anggraini, S.M.

Yasiva Ayu P., S.Pd.

Kontributor:

Kehumasan PAUDIH

Kehumasan SDIH

Kehumasan SDIH 02

Kehumasan SMPIH

Kehumasan SMAIH

Highlight of the Week

WARTA SMA

Melalui organisasi SMAHA Content Creator (SMACO), para siswa belajar menjadi kreator digital yang kreatif, positif, dan produktif — wujud nyata semangat sekolah digital dan unggul. 🚀

WARTA SMP

Seni batik bertemu teknologi digital! 🎨💻

Siswa SMP Islam Hidayatullah belajar memadukan kearifan lokal batik dengan aplikasi desain digital di iPad. Hasilnya? Karya kreatif yang tetap bernuansa tradisi namun tampil modern dan penuh warna. 🌿

WARTA SD

Siswa kelas 4 dan 5 SD Islam Hidayatullah mengikuti Kunjungan Organisasi Sekolah ke Perpustakaan Provinsi Jateng, Fakultas Kedokteran UNISSULA, dan BRIMOB POLDA Jateng. Seru, edukatif, dan penuh pengalaman berharga! 📚👮‍♂️👩‍⚕️

WARTA SD 02

Anak-anak berlatih disiplin, literasi, dan kesehatan dengan cara yang seru dan bermakna!

WARTA PAUD

Anak-anak TK Islam Hidayatullah belajar mencintai budaya Indonesia melalui kegiatan membatik sederhana yang seru, penuh warna, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan bangsa sejak dini. 🎨

WARTA QLC

📖 Meneladani Kesederhanaan Rasulullah

Kajian Pembinaan Pengabdi LPI Hidayatullah

Beliau tidak pernah makan berlebihan, tidak mencela makanan, dan selalu bersyukur atas apa pun yang tersedia di hadapannya.

Tajuk Redaksi

Apakah Pendidikan Karakter Masih Relevan di Zaman Sekarang?

1. Pendidikan Karakter: Sebuah Keniscayaan Sepanjang Zaman

Pertanyaan “Apakah pendidikan karakter masih relevan?” justru menunjukkan betapa pentingnya topik ini untuk dikaji ulang di tengah derasnya arus modernisasi, teknologi, dan globalisasi nilai.


Jawabannya tegas: ya, pendidikan karakter sangat relevan — bahkan semakin dibutuhkan.

Perubahan sosial yang cepat, kemudahan akses informasi, serta tantangan moral generasi muda menjadikan pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap, tetapi pondasi utama dalam membentuk manusia yang beradab (insan kamil).


Tanpa karakter, ilmu hanya menjadi alat; tetapi dengan karakter, ilmu menjadi cahaya yang menuntun kehidupan.

2. Perspektif Islam: Akhlak sebagai Inti Pendidikan

Dalam Islam, pendidikan karakter bukan konsep baru. Ia merupakan inti dari misi kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad no. 8952, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 273)

Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan akhlak (karakter) adalah tujuan utama pendidikan Islam.


Akhlak yang baik menjadi tanda kesempurnaan iman:

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi no. 1162)

Bahkan, dengan akhlak yang luhur seseorang dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat:

“Sesungguhnya seorang mukmin dapat mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat malam karena akhlaknya yang baik.” (HR. Abu Dawud no. 4165)

Dengan demikian, pendidikan karakter bukan hanya relevan, tetapi merupakan ruh pendidikan Islam. Ilmu tanpa akhlak adalah hampa; pengetahuan tanpa adab adalah bencana.

3. Pendidikan Karakter dalam Kebijakan Nasional

Pemerintah Indonesia juga menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas utama dalam sistem pendidikan nasional.

📘 Dasar Hukum:

  • Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
  • Pasal 3 menyebutkan bahwa:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.”


Artinya, pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk watak dan kepribadian peserta didik.


  • Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
  • Perpres ini menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi gerakan nasional untuk memperkuat nilai-nilai utama — religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas — yang terintegrasi dalam kegiatan belajar di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
  • Kurikulum Merdeka (2022–sekarang)

Dalam kurikulum terbaru, Profil Pelajar Pancasila menjadi tujuan utama pendidikan nasional. Karakter pelajar Indonesia diharapkan memiliki nilai:

  • Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia
  • Berkebinekaan global
  • Gotong royong
  • Mandiri
  • Bernalar kritis
  • Kreatif


Semua nilai ini sejalan dengan konsep akhlak dalam Islam — menanamkan nilai spiritual, moral, dan sosial yang menumbuhkan keseimbangan antara ilmu dan amal.

4. Relevansi di Era Digital

Di era serba cepat dan digital seperti sekarang, karakter justru menjadi filter moral yang sangat penting.


Kecerdasan buatan, media sosial, dan globalisasi budaya membawa banyak manfaat, tetapi juga potensi bahaya jika tidak dibarengi dengan pengendalian diri, empati, dan tanggung jawab.

Tanpa karakter:

  • Pengetahuan mudah disalahgunakan.
  • Media sosial menjadi sumber fitnah dan ujaran kebencian.
  • Kecerdasan emosional menurun, kepekaan sosial melemah.


Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi benteng moral dan etika digital, agar generasi muda mampu menggunakan teknologi dengan hikmah.

Pendidikan karakter tidak hanya relevan, tetapi esensial dan abadi.

Islam telah menjadikan akhlak sebagai inti pendidikan, sementara negara menegaskannya dalam undang-undang dan kurikulum nasional.

Membangun generasi cerdas saja tidak cukup; kita harus membangun generasi berkarakter, yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia.

“Sungguh beruntung orang yang disucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)
SMA ISLAM HIDAYATULLAH • SMA ISLAM HIDAYATULLAH • SMA ISLAM HIDAYATULLAH • SMA ISLAM HIDAYATULLAH • SMA ISLAM HIDAYATULLAH • SMA ISLAM HIDAYATULLAH •

SMACO: Gebrakan Kreatif di SMAHA

Membangun Generasi Digital yang Kreatif, Positif, dan Produktif

SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) Semarang kembali menegaskan posisinya sebagai sekolah digital dan unggul. Tak hanya menonjol dalam prestasi akademik, SMAHA juga aktif mengembangkan kreativitas serta karakter kepemimpinan siswa.


Salah satu bukti nyatanya terlihat dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diselenggarakan pada Jumat, 10 Oktober 2025, di aula sekolah, berlangsung dari pagi hingga sore.

Kegiatan LDK tahun ini menjadi istimewa karena melahirkan organisasi baru yang langsung menarik perhatian — SMAHA Content Creator (SMACO), wadah bagi siswa untuk menyalurkan bakat dan ide kreatif di dunia digital dengan semangat: kreatif, positif, dan produktif.

Lahirnya SMACO: Ruang Baru untuk Berkarya

Acara pembukaan LDK dibuka secara resmi oleh Ibu Etik Ningsih, Kepala SMAHA. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menumbuhkan tanggung jawab, kedisiplinan, dan semangat kepemimpinan di kalangan siswa.

“Kepemimpinan bukan hanya soal posisi, tapi tentang bagaimana membawa energi positif bagi lingkungan sekitar,” ujar beliau.

Setelah sesi pembukaan, SMACO langsung menggelar kegiatan perdananya di ruang kelas dengan sambutan hangat dari Ma’am Nunung Kusumawati, selaku pembina SMACO.


Beliau mengajak seluruh anggota — yang disebut Smaconian — untuk menjadikan SMACO sebagai ruang belajar, berkreasi, dan berkarya secara positif di bidang konten digital.

Workshop Inspiratif: Belajar dari Praktisi Dunia Digital

Sebagai organisasi baru, SMACO langsung menunjukkan gebrakannya melalui dua workshop inspiratif yang menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang media sosial dan kewirausahaan digital.

1. Kak Bima Aditya – Social Media Specialist

Pada sesi pertama, Kak Bima Aditya, seorang social media specialist muda, berbagi pengalaman seru tentang dunia kreator digital. Ia memberikan tips membuat konten menarik, menjaga konsistensi, hingga menghadapi tantangan dunia media sosial.


Sesi ini berlangsung interaktif — para siswa tak segan bertanya dan berdiskusi mengenai tren serta ide konten yang relevan dengan generasi muda.

2. Mami Ani Fatihah – Digital Creator & Entrepreneur

Sesi kedua diisi oleh Mami Ani Fatihah, seorang digital creator sekaligus pengusaha yang juga merupakan wali murid SMAHA.


Beliau mengajak peserta memahami pentingnya entrepreneur mindset bagi generasi muda.

“Setiap ide kreatif punya peluang bisnis. Tinggal bagaimana kalian melihatnya dengan kacamata peluang,” pesannya.

Kehadiran Mami Ani menunjukkan bentuk nyata kolaborasi antara sekolah dan orang tua, menciptakan ekosistem pendidikan yang sinergis, hangat, dan saling mendukung.

Kolaborasi dan Semangat Baru

Kegiatan SMACO Newborn berlangsung penuh energi. Diskusi, tawa, dan semangat kolaborasi mengisi suasana kelas. Para peserta tampak bersemangat membawa pulang inspirasi baru untuk berkarya lebih produktif.

SMACO kini menjadi laboratorium ide kreatif di SMAHA — wadah tempat siswa belajar menciptakan konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga membawa nilai dan pesan positif bagi masyarakat.

“Ini bukan sekadar komunitas, tapi ruang bagi siswa untuk bersuara dan menginspirasi lewat karya digital,” ungkap Ma’am Nunung dalam penutup kegiatan.

Dengan semangat newborn, SMACO siap menjadi pelopor gerakan kreatif siswa SMAHA — membangun generasi digital yang cerdas, beretika, dan berdampak bagi lingkungan sekitarnya.


Langkah awal sudah dimulai, dan gebrakan SMACO akan terus berlanjut.

Dari SMAHA untuk Indonesia — kreatif, positif, dan produktif!

🖋️ Source: Humas SMAHA

SMP ISLAM HIDAYATULLAH • SMP ISLAM HIDAYATULLAH • SMP ISLAM HIDAYATULLAH • SMP ISLAM HIDAYATULLAH • SMP ISLAM HIDAYATULLAH • SMP ISLAM HIDAYATULLAH •

SMP Islam Hidayatullah

Kreasi Seni Batik Berbasis Digital

smp-islam-hidayatullah-membatik


Inovasi Perpaduan Teknologi dan Warisan Tradisional

Kain batik merupakan kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan cara menuliskan atau menerakan malam pada kain, kemudian melalui proses pengolahan tertentu.


Batik telah menjadi identitas bangsa Indonesia dan diakui secara internasional sebagai salah satu warisan budaya dunia. Setiap daerah penghasil batik memiliki kekhasan motif dan makna yang mencerminkan kearifan lokal Nusantara.

Sebagai bentuk upaya mengenalkan dan melestarikan kekayaan budaya tersebut, SMP Islam Hidayatullah mengangkat tema batik dalam pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).

Batik dan Pembelajaran Digital

Ibu Anisa, guru SBK SMP Islam Hidayatullah, memadukan karya tradisional batik dengan pendekatan digital class yang menjadi ciri khas pembelajaran di sekolah ini.


Dalam prosesnya, ia mengajak siswa menggunakan aplikasi Procreate untuk membuat desain batik di iPad, sebelum akhirnya menuangkan hasil desain tersebut dalam lukisan cat di kanvas.

Hasil karya siswa pun memukau. Bahkan, Miss Line, native speaker berkewarganegaraan Norwegia yang tengah mengikuti program LEWAT (Learning with Native) di SMP Islam Hidayatullah, turut serta dalam kegiatan ini.

Miss Line mengungkapkan kekagumannya terhadap hasil karya siswa,

“Very nice and beautiful!” ujarnya kepada Hasnaa, siswi kelas 9E yang menghadiahkan desain batiknya secara khusus kepada Miss Line.

Menghubungkan Tradisi dan Inovasi

Menurut Bu Anisa, para siswa kelas 9 menunjukkan kemampuan luar biasa. Mereka bukan hanya menguasai teknologi digital, tetapi juga mampu mempertemukan tradisi luhur batik dengan dunia digital modern.


Melalui aplikasi Procreate, setiap garis dan motif yang digoreskan menjadi bukti bahwa kreativitas tidak mengenal batas medium.

“Semoga semangat inovasi ini terus menyala. Saya berharap pembelajaran Seni Budaya ke depan menjadi wadah eksplorasi tanpa batas — tempat siswa berani mencoba hal baru, menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi modern, dan menjadikan kreativitas sebagai bahasa utama dalam memecahkan masalah,” pesan Bu Anisa, guru SBK SMP Islam Hidayatullah yang dikenal kreatif dan inspiratif.

Source: Humas SMPIH

SD ISLAM HIDAYATULLAH • SD ISLAM HIDAYATULLAH • SD ISLAM HIDAYATULLAH • SD ISLAM HIDAYATULLAH • SD ISLAM HIDAYATULLAH • SD ISLAM HIDAYATULLAH •

SD ISLAM HIDAYATULLAH

sd islam hidayatullah-kunjungan

Kunjungan Organisasi Sekolah SD Islam Hidayatullah

Belajar Langsung dari Dunia Nyata

Selasa, 14 Oktober 2025, menjadi hari yang istimewa bagi siswa kelas 4 dan 5 SD Islam Hidayatullah.


Melalui kegiatan Kunjungan Organisasi Sekolah, para siswa diajak belajar langsung ke berbagai lembaga dan institusi sesuai bidang organisasi yang mereka ikuti di sekolah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan karakter dan kepemimpinan siswa. Tujuannya agar anak-anak tidak hanya memahami teori organisasi di kelas, tetapi juga melihat langsung bagaimana peran dan tanggung jawab itu diterapkan di dunia nyata.

Tiga Lokasi, Tiga Pengalaman Berharga

Dalam kunjungan kali ini, peserta kegiatan terbagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan organisasi yang diikuti:

1. PUSCIL (Pustakawan Kecil)

Kelompok PUSCIL berkunjung ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Di sana, mereka belajar tentang sistem pengelolaan buku, tata cara peminjaman, serta pentingnya menjaga ketertiban dan kebersihan ruang baca.

Para pustakawan kecil tampak bersemangat saat diajak tur keliling melihat berbagai koleksi buku dan layanan digital perpustakaan.

2. DOKCIL (Dokter Kecil)

Kelompok DOKCIL mengunjungi Fakultas Kedokteran UNISSULA.

Anak-anak diperkenalkan pada berbagai alat medis, cara menjaga kebersihan diri, serta pentingnya pola hidup sehat.

Mereka juga mendapat kesempatan bertanya langsung kepada mahasiswa kedokteran dan dosen pembimbing, membuat suasana kunjungan semakin interaktif dan seru.

3. PKS (Patroli Keamanan Sekolah)

Sementara itu, kelompok PKS berkunjung ke BRIMOB POLDA Jawa Tengah.

Di sana, siswa belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga keamanan di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Anak-anak sangat antusias saat diperlihatkan perlengkapan Brimob dan menyaksikan simulasi baris-berbaris.

Belajar Seru dan Penuh Makna

Kegiatan Kunjungan Organisasi Sekolah berlangsung menyenangkan dari awal hingga akhir.

Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti kegiatan, baik saat mendengarkan penjelasan, bertanya, maupun berinteraksi dengan para narasumber di lokasi kunjungan.

Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga belajar nilai-nilai penting seperti tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama, dan rasa ingin tahu.

Kepala SD Islam Hidayatullah menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini penting untuk membekali siswa dengan pengalaman belajar yang nyata dan bermakna.

“Kami ingin anak-anak belajar tidak hanya dari buku, tapi juga dari pengalaman langsung. Melihat, merasakan, dan memahami bagaimana nilai-nilai organisasi diterapkan di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dengan semangat belajar yang tinggi, diharapkan siswa SD Islam Hidayatullah dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berkarakter, dan siap menjadi calon pemimpin masa depan. 🌟

SD ISLAM HIDAYATULLAH 02 • SD ISLAM HIDAYATULLAH 02 • SD ISLAM HIDAYATULLAH 02 • SD ISLAM HIDAYATULLAH 02 • SD ISLAM HIDAYATULLAH 02 • SD ISLAM HIDAYATULLAH 02 •

SD ISLAM HIDAYATULLAH 02

Pengalaman Seru di Lapangan: Siswa SDIH 02 Eksplor Dunia Kedokteran, Kepustakaan, dan Kepolisian

Satu Hari, Tiga Pengalaman Berbeda

Selasa, 14 Oktober 2025, halaman SD Islam Hidayatullah 02 pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya.


Sejak pukul 07.00, siswa-siswi kelas 4 dan 5 sudah berkumpul di lapangan basket. Dengan penuh semangat, mereka melantunkan doa pagi dan tahfiz bersama sebelum memulai kegiatan selanjutnya.


Hari itu menjadi penutup rangkaian pelatihan organisasi sekolah, dan anak-anak siap berangkat mengikuti kegiatan Kunjungan Organisasi ke berbagai instansi.

Kegiatan ini diikuti oleh tiga organisasi siswa:

  • Dokter Kecil (Dokcil)
  • Patroli Keamanan Sekolah (PKS)
  • Pustakawan Cilik (Puscil)

Menariknya, SD Islam Hidayatullah 02 berkolaborasi dengan SD Islam Hidayatullah 01 sehingga suasana semakin ramai dan penuh kebersamaan.


Serunya PKS di Markas Brimob

Kelompok PKS mendapat kesempatan langka berkunjung ke Satuan Brimob POLDA Jawa Tengah.


Di sana, anak-anak belajar langsung tentang kedisiplinan dan keamanan dari para anggota Brimob.


Tentu saja, pengalaman paling seru adalah saat mereka naik truk dan motor trail milik Brimob — lengkap dengan rompi dan helm pelindung!

Yang paling ditunggu-tunggu? Saat mobil water cannon menyemprotkan air ke udara. Bukannya menghindar, anak-anak justru tertawa kegirangan sambil berlarian di bawah guyuran air.


Hari itu, belajar disiplin terasa sangat menyenangkan!


Puscil Menjelajahi Dunia Buku dan Arsip

Sementara itu, tim Pustakawan Cilik (Puscil) melakukan kunjungan ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.


Anak-anak disambut ramah oleh para pustakawan dan diajak menonton film pendek berjudul “Topi”, yang mengajarkan nilai-nilai karakter dan tanggung jawab.

Setelah menonton, mereka berkeliling ke galeri arsip kuno, tempat berbagai dokumen bersejarah tersimpan rapi.


Salah satu peserta, Langit, terlihat begitu serius mengamati lembar demi lembar arsip berusia puluhan tahun.


Kegiatan ditutup dengan membaca buku dan bermain di RBM (Ruang Belajar Modern) yang dilengkapi fasilitas teknologi interaktif.


Dokter Kecil Belajar Anatomi di Fakultas Kedokteran

Sementara kelompok Dokter Kecil (Dokcil) berkunjung ke Fakultas Kedokteran UNISSULA.


Di sana, mereka belajar mengenal organ tubuh manusia, cara menjaga kesehatan, dan pentingnya hidup bersih.


Para mahasiswa kedokteran juga mengajak anak-anak bermain kuis edukatif dan lomba merangkai organ tubuh.

“Seru banget, Bu! Tadi saya menang lomba memasang organ tubuh,” cerita Kalynn, salah satu peserta, sambil tersenyum lebar.


Belajar di Luar Kelas, Menjadi Lebih Bermakna

Meski kegiatan pelatihan organisasi sudah selesai, perjalanan anak-anak ini justru baru dimulai.


Mereka kini siap menjalankan peran sebagai anggota aktif PKS, Puscil, dan Dokcil di sekolah — menjaga ketertiban, kesehatan, dan literasi di lingkungan SD Islam Hidayatullah 02.

Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan edukatif, tetapi juga pembelajaran nyata tentang tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama.


Dari perpustakaan hingga markas Brimob, setiap pengalaman memberikan pelajaran berharga tentang arti menjadi pemimpin kecil yang bermanfaat bagi sesama.


🌟 “Belajar tidak selalu di kelas — terkadang, pelajaran terbaik justru datang dari pengalaman langsung di luar sekolah.” 🌟

PAUD ISLAM HIDAYATULLAH • PAUD ISLAM HIDAYATULLAH • PAUD ISLAM HIDAYATULLAH • PAUD ISLAM HIDAYATULLAH • PAUD ISLAM HIDAYATULLAH • PAUD ISLAM HIDAYATULLAH •

Ayo Membatik Bersama IGTKI Kota Semarang

Mengenal Budaya Lewat Kegiatan Seru

Selasa, 7 Oktober 2025, suasana ruang sentra balok TK Islam Hidayatullah tampak berbeda dari biasanya. Hari itu, anak-anak TK B mengikuti kegiatan “Ayo Membatik” yang diselenggarakan oleh IGTKI Kota Semarang dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.

Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengenal batik sebagai warisan budaya Indonesia yang membanggakan. Dengan cara yang menyenangkan, mereka belajar membatik sederhana, bermain warna, sekaligus melatih kreativitas dan keterampilan tangan. Tujuannya agar sejak dini, anak-anak tumbuh dengan rasa cinta dan bangga terhadap budaya bangsa.

Antusiasme Anak dalam Belajar Membatik

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Panitia melalui Zoom Meeting. Dalam sambutannya, beliau memberikan semangat dan motivasi kepada seluruh peserta, terutama anak-anak, untuk mencintai budaya Indonesia lewat kegiatan membatik.

Anak-anak tampak antusias dan bersemangat mengikuti setiap arahan. Mereka mempersiapkan alat dan bahan dengan tertib, lalu mulai mencoba membatik sesuai pola yang diberikan. Meski beberapa anak terlihat sedikit kesulitan, semangat mereka untuk mencoba tidak pernah padam.

Suasana menjadi hangat dan penuh tawa. Anak-anak dengan teliti menggoreskan malam dan memilih warna sesuai imajinasinya. Beberapa karya tampak unik dan penuh warna — mencerminkan karakter anak-anak yang kreatif dan spontan.

Menumbuhkan Cinta Budaya Sejak Dini

Kegiatan membatik ini tidak hanya menjadi ajang bermain, tetapi juga media belajar yang bermakna. Anak-anak belajar kesabaran, ketelitian, dan menghargai proses dalam berkarya.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.

Keceriaan dan semangat yang terpancar dari wajah anak-anak menjadi bukti bahwa belajar mencintai budaya bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

🌿 Hikmah

Meneladani Kesederhanaan Rasulullah

Kajian Pembinaan Rutin Pengabdi LPI Hidayatullah

Bersama Ustadz Amin Taufiq, Lc

Sabtu, 18 Oktober 2025, Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Hidayatullah Yayasan Abul Yatama Semarang kembali mengadakan pembinaan rutin bagi para pengabdi.


Kegiatan ini menjadi salah satu program penting dalam menumbuhkan semangat meneladani akhlak dan kehidupan Rasulullah ﷺ.


Pada kesempatan kali ini, Ustadz Amin Taufiq, Lc. membahas Kitab Asy-Syamā’il al-Muhammadiyyah — sebuah kitab yang memuat gambaran lengkap tentang pribadi, akhlak, dan kebiasaan Rasulullah ﷺ.

Kesederhanaan Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam penjelasannya, Ustadz Amin menekankan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal kesederhanaan dan keikhlasan hidup.


Beliau ﷺ tidak pernah hidup berlebihan, bahkan di tengah kemampuan untuk melakukannya.

Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Keluarga Nabi ﷺ tidak pernah kenyang dengan roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari no. 5416, Muslim no. 2970)

Keluarga Rasulullah ﷺ juga tidak pernah menyisakan makanan, karena beliau mengajarkan bahwa makanan adalah nikmat yang harus disyukuri, bukan disia-siakan. Nabi ﷺ bersabda:

“Makanan seseorang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR. Bukhari no. 5392, Muslim no. 2059)

Teladan dalam Makan: Tidak Berlebih, Tidak Mengeluh

Rasulullah ﷺ dikenal tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai suatu makanan, beliau memakannya, dan jika tidak, beliau tinggalkan tanpa mengeluh.


Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sedikit pun. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak, beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409, Muslim no. 2064)

Beliau juga makan di atas alas (sufrah), bukan di meja tinggi sebagaimana kebiasaan orang kaya, sebagai bentuk kerendahan hati dan tawadhu.


Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau tidak makan sambil bersandar, karena itu merupakan gaya orang yang sombong. (HR. Bukhari dalam Adab al-Mufrad no. 1279)

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa rasa lapar adalah obat terbaik dan makan secukupnya merupakan adab penting dalam Islam.

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)

Hidup Memberi dan Penuh Kepedulian

Rasulullah ﷺ dan keluarganya diharamkan menerima zakat, namun mereka sangat gemar memberi dan bersedekah.


Meski hidup sederhana, beliau tetap membantu orang lain.


Diriwayatkan bahwa baju perang Rasulullah ﷺ pernah digadaikan kepada seorang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. (HR. Bukhari no. 2916, Muslim no. 1603)

Kesederhanaan itu bukan karena kekurangan, tetapi karena pilihan sadar untuk hidup zuhud, tidak bergantung pada dunia.


Beliau tidak pernah menampakkan kesedihan berlebihan atas kekurangan, dan selalu bersyukur atas nikmat sekecil apa pun.

Nilai yang Dapat Diteladani

Dari kajian ini, para pengabdi LPI Hidayatullah diajak untuk:

  • Meneladani kesederhanaan Rasulullah ﷺ dalam makan dan berpakaian.
  • Menanamkan rasa cukup dan syukur dalam kehidupan.
  • Menjauhi sikap berlebihan dan pemborosan.
  • Menguatkan akhlak dalam memberi, berbagi, dan tidak mengeluh.


Ustadz Amin menutup kajian dengan pesan,

“Rasulullah ﷺ adalah suri teladan dalam segala aspek kehidupan. Beliau bukan hanya guru dalam ibadah, tetapi juga teladan dalam kesederhanaan, etika, dan kepedulian.”

📚 Referensi:

  • Muslim.or.id – Keutamaan Berhias dengan Akhlak Mulia
  • Sunnah.com – Sahih Bukhari & Sahih Muslim Collections
  • Kitab Asy-Syamā’il al-Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi
error: Content is protected !!