
Alhamdulillah, buletin pekanan Hidayatullah kembali hadir pada Edisi 23 dengan berbagai kabar kegiatan dari unit pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, serta rangkuman kajian yang menjadi penguat nilai ruhiyah bagi keluarga besar lembaga.
Pada edisi ini, pembaca dapat melihat bagaimana pembinaan karakter dilakukan melalui kegiatan yang sederhana namun konsisten. Di PAUD Islam Hidayatullah, pembiasaan infaq selama bulan Ramadan menjadi salah satu cara mengenalkan nilai berbagi sejak usia dini. Anak-anak dilatih untuk menyisihkan sebagian uang mereka sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap sesama.
Di jenjang sekolah dasar, kegiatan pembelajaran juga diarahkan pada pembentukan tanggung jawab dan kesadaran lingkungan. Program seperti penanaman tanaman oleh siswa serta kampanye memilih makanan yang aman menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui aktivitas sehari-hari di sekolah.
Sementara itu, siswa SMA Islam Hidayatullah juga terlibat dalam kegiatan kepedulian sosial melalui program social care di panti asuhan. Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk belajar langsung tentang arti berbagi dan memperluas kepedulian terhadap masyarakat sekitar.
Melengkapi rangkaian laporan kegiatan tersebut, Kajian Sabtu bersama Habib Ja’far Musawwa mengingatkan kembali makna puasa sebagai perisai bagi seorang muslim. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, perilaku, serta memperbanyak amalan kebaikan di bulan Ramadan.
Berbagai kegiatan yang terangkum dalam edisi ini memperlihatkan satu benang merah yang sama: pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga rangkaian kegiatan yang tersaji dalam edisi ini dapat menjadi inspirasi dan penguat semangat bagi seluruh keluarga besar Hidayatullah untuk terus belajar, berbagi, dan memperbaiki diri di bulan Ramadan yang penuh berkah.
Selamat membaca.
Warta terkini perkembangan sekolah & kegiatan siswa selama sepekan yang dirangkum dalam buletin online informatif dan mudah diakses kapan saja dengan akses internet.
PEMBUKAAN SPMB TAHUN AJARAN 2026/2027

Eko Wahyu D., M.Pd.
Adi Suipto, S.Pd.
Suci Wulansari, M.Pd.
Pimpinan Redaksi
Tarto, M.Pd.
Dewan Redaksi
Videa Salsabila W., S.K.M.
Devi Anggraini, S.M.
Yasiva Ayu P., S.Pd.
Kontributor:
Kehumasan PAUDIH
Kehumasan SDIH
Kehumasan SDIH 02
Kehumasan SMPIH
Kehumasan SMAIH
Dari pihak panti, Muhammad Rois selaku pengurus menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia menyebutkan bahwa hujan deras yang turun saat kegiatan tidak mengurangi makna kebersamaan.
Perkuat Karakter Siswa, SMP Islam Hidayatullah Gelar Pesantren Ramadan Bertajuk "Mengelola Cinta"
Sisi menarik muncul saat Ustaz Hartanta, S.Pd.I., mengupas fenomena “Cinta Remaja”. Beliau menekankan bahwa cinta adalah anugerah yang harus dikelola agar hadir pada waktu yang tepat, dengan prioritas utama cinta kepada Allah SWT, Rasulullah, dan orang tua.
Sekolah menilai edukasi mengenai makanan sehat perlu dikenalkan sejak dini. Anak-anak diajak memahami bahwa tidak semua jajanan yang dijual di sekitar mereka aman untuk dikonsumsi.
Beberapa siswa juga saling membantu ketika menata pot atau menyiram tanaman teman yang membutuhkan bantuan. Momen tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kerja sama di antara mereka.
Selain melatih empati, kegiatan ini juga membantu anak belajar bersyukur serta tidak bersikap egois. Anak dikenalkan bahwa memberi merupakan bagian dari ajaran Islam dan termasuk amalan yang dianjurkan.
Kajian Sabtu: Puasa sebagai Perisai dan Jalan Menuju Ampunan
Habib Ja’far menekankan bahwa upaya mencari malam Lailatul Qadar sebaiknya tidak hanya dilakukan pada malam-malam ganjil di akhir Ramadan.
Menurutnya, perbedaan penetapan awal Ramadan di berbagai tempat bisa menyebabkan perbedaan hitungan malam ganjil dan genap.
SEMARANG — SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) kembali mengadakan kegiatan social care dalam rangkaian program Ramadan. Kegiatan berlangsung pada Jumat, 27 Februari 2026, di Panti Asuhan Tarbiyatul Hasanah.
Panti asuhan yang berlokasi di Gedawang, Banyumanik ini menaungi sekitar 80 anak asuh dari jenjang SD hingga SMA.
Kegiatan social care merupakan agenda rutin tahunan SMAHA. Tahun ini, kegiatan diikuti oleh perwakilan guru, karyawan, dan siswa yang hadir untuk menyerahkan bantuan sekaligus bersilaturahmi dengan anak-anak panti.
Koordinator kegiatan, Suherianto, Kom., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi bantuan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran karakter bagi siswa.
“Ini program rutin sekolah. Kami ingin siswa belajar peduli dan merasakan langsung pentingnya berbagi,” ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Taufik Nur Hidayat, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ajang mempererat hubungan antarwarga muslim di wilayah Banyumanik.
“Semoga apa yang kami bagikan bisa bermanfaat. Kami juga mohon doa agar semua urusan sekolah dan keluarga besar SMAHA diberi kelancaran,” tuturnya.
Dari pihak panti, Muhammad Rois selaku pengurus menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia menyebutkan bahwa hujan deras yang turun saat kegiatan tidak mengurangi makna kebersamaan.
“Kami bersyukur atas perhatian dari SMAHA. Terima kasih atas kepedulian kepada anak-anak di sini. Semoga menjadi amal kebaikan bagi semua,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, SMAHA berharap semangat kepedulian sosial tidak berhenti pada momentum Ramadan saja. Sekolah mendorong agar nilai berbagi dan empati menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.
SEMARANG – Relevan dengan upaya menghadapi tantangan krisis moral di era modern, SMP Islam Hidayatullah Semarang menyelenggarakan Pesantren Ramadan 1447 H. Mengusung tema unik “Mengelola Cinta yang Datang Agar Ramadan Lebih Bermakna”, kegiatan ini bertujuan membekali siswa dengan kecerdasan emosional dan spiritual.
Acara dilaksanakan dalam dua gelombang, yakni Gelombang 1 untuk siswa putri kelas 7, 8, dan 9 yang dilaksanakan pada 27 Februari 2026. Gelombang 2 untuk siswa putra kelas 7, 8, dan 9 dilaksanakan pada 28 Februari 2026. Kegiatan ini mencakup rangkaian acara berupa kajian, khataman Al-Qur’an, buka bersama, berbagi takjil untuk masyarakat sekitar, hingga salat Tarawih berjamaah. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di musala SMP Islam Hidayatullah Semarang dari pukul 15.00 hingga 20.00 WIB.
Kepala Sekolah, Ibu Reni Dria Susandari, S.Pd., dalam sambutan pembukaannya mengingatkan siswa untuk menjaga integritas. “Jangan sampai puasa kita sia-sia karena tidak mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat,” tegasnya.
Sisi menarik muncul saat Ustaz Hartanta, S.Pd.I., mengupas fenomena “Cinta Remaja”. Beliau menekankan bahwa cinta adalah anugerah yang harus dikelola agar hadir pada waktu yang tepat, dengan prioritas utama cinta kepada Allah SWT, Rasulullah, dan orang tua.
Ustaz Hartanta juga berkisah tentang fenomena cinta dalam Al-Qur’an, seperti kisah Nabi Yusuf, serta fenomena remaja di sekitar kita yang relevan dengan kondisi saat ini. Ia memberikan tips positif untuk mengelola rasa cinta dengan mengacu pada Al-Qur’an, pengalaman pribadi, dan kisah inspiratif di sekitarnya.
Selain itu, di sela-sela kegiatan, perwakilan organisasi Rohis, OSIS, Dewan Galang, dan ROOTS melakukan aksi sosial berupa pembagian takjil di Jalan Cemara Raya sebagai bentuk kepedulian sosial, khususnya di bulan Ramadan.
SD ISLAM HIDAYATULLAH
SEMARANG — Suasana pagi di SD Islam Hidayatullah Semarang tampak lebih ramai dari biasanya. Siswa kelas 1 hingga kelas 6 berkumpul di lapangan basket untuk mengikuti kegiatan Tarhib Ramadan. Salah satu agenda dalam kegiatan tersebut adalah kampanye bertajuk Gerakan Tolak Pangan yang Tidak Aman.
Kegiatan ini melibatkan siswa, guru, serta seluruh warga sekolah dengan pesan utama: mengajak memilih makanan yang aman dan sehat.
Dalam kegiatan kampanye ini, siswa membawa brosur berisi informasi tentang makanan sehat dan aman. Brosur tersebut digunakan sebagai media untuk mengedukasi teman-teman maupun warga sekolah tentang pentingnya memilih makanan yang layak dikonsumsi.
Sekolah menilai edukasi mengenai makanan sehat perlu dikenalkan sejak dini. Anak-anak diajak memahami bahwa tidak semua jajanan yang dijual di sekitar mereka aman untuk dikonsumsi.
Kepala SD Islam Hidayatullah, Bu Peni, menekankan bahwa menjaga makanan yang dikonsumsi juga merupakan bagian dari menjaga amanah tubuh yang diberikan oleh Allah SWT.
Kampanye ini juga menjadi bagian dari upaya sekolah menjaga komitmen terhadap keamanan pangan. Sebelumnya, SD Islam Hidayatullah meraih penghargaan sebagai sekolah dengan program Pangan Jajan Anak Sekolah (PJAS) Aman pada tahun 2023.
Capaian tersebut mendorong sekolah untuk terus mengingatkan siswa agar lebih selektif dalam memilih jajanan. Makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti pengawet, pewarna, pemanis, atau bahan tambahan lain secara berlebihan perlu dihindari.
Kampanye dilakukan melalui beberapa kegiatan sederhana namun edukatif. Sejumlah siswa berperan sebagai duta keamanan pangan yang mengingatkan teman-temannya agar memilih jajanan yang aman.
Siswa juga diperkenalkan cara membaca label kemasan, memeriksa tanggal kedaluwarsa, serta mengenali tanda-tanda makanan yang tidak layak dikonsumsi.
Di sisi lain, pengelola kantin sekolah juga berkomitmen menyediakan makanan yang memenuhi standar kesehatan dan gizi.
Melalui kegiatan ini, sekolah berharap kebiasaan memilih makanan sehat dapat menjadi bagian dari budaya sekolah, sehingga siswa terbiasa menjaga kesehatan sejak usia dini.

SD ISLAM HIDAYATULLAH 02
SEMARANG — Siswa kelas 4 SD Islam Hidayatullah 02 mengikuti kegiatan bertajuk “My Plant My Responsibility (Tanamanku, Tanggung Jawabku)” pada 26 Januari 2026. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah sebagai bagian dari pembelajaran yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak menanam dan merawat tanaman secara langsung.
Dalam kegiatan tersebut, setiap siswa menanam bibit tanaman di pot yang telah disediakan. Setelah menanam, mereka memberi label nama pada pot masing-masing sebagai tanda tanggung jawab terhadap tanaman yang dirawat.
Guru mendampingi proses penanaman sekaligus menjelaskan cara merawat tanaman, seperti menyiram secara rutin dan menjaga kebersihan area sekitar.
Kegiatan ini dirancang untuk melatih tanggung jawab siswa terhadap sesuatu yang mereka rawat sendiri. Selain itu, siswa juga dikenalkan pada pentingnya menjaga lingkungan sejak usia sekolah dasar.
Suasana kegiatan berlangsung aktif dan penuh semangat. Siswa terlihat antusias saat menyiapkan tanah, menanam bibit, hingga menyiram tanaman.
Beberapa siswa juga saling membantu ketika menata pot atau menyiram tanaman teman yang membutuhkan bantuan. Momen tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kerja sama di antara mereka.
Melalui kegiatan sederhana ini, sekolah berharap siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga belajar merawat sesuatu dengan sabar dan konsisten.

SEMARANG — PAUD Islam Hidayatullah (PAUDIH) Semarang membiasakan kegiatan infaq setiap hari selama bulan Ramadan. Program bertajuk “Pembiasaan Infaq: Membentuk Karakter Dermawan Sejak Dini” ini dilaksanakan di lingkungan TK Islam Hidayatullah Semarang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang ditanamkan sejak usia taman kanak-kanak.
Pembiasaan infaq diadakan bukan sekadar untuk mengumpulkan dana, tetapi sebagai sarana menanamkan nilai kepedulian. Usia dini dikenal sebagai masa emas pembentukan karakter, sehingga kebiasaan baik yang ditanamkan pada fase ini diharapkan melekat hingga dewasa.
Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar menyisihkan sebagian uang saku dengan bimbingan guru dan dukungan orang tua. Mereka dikenalkan pada konsep berbagi dan memahami bahwa di sekitar mereka ada orang lain yang membutuhkan bantuan.
Selain melatih empati, kegiatan ini juga membantu anak belajar bersyukur serta tidak bersikap egois. Anak dikenalkan bahwa memberi merupakan bagian dari ajaran Islam dan termasuk amalan yang dianjurkan.
Setiap pagi setelah kegiatan pembuka, anak-anak secara bergiliran maju menuju kotak infaq yang telah disediakan di sudut sekolah. Mereka memasukkan uang yang dibawa dari rumah dengan pendampingan guru.
Sebagian anak menyampaikan bahwa uang tersebut berasal dari tabungan mereka. Ada pula yang lupa membawa infaq dan menyampaikan kepada guru. Situasi seperti ini dijadikan momen pembelajaran tentang niat, tanggung jawab, dan konsistensi.
Beberapa anak bahkan datang keesokan harinya dengan membawa infaq sebagai bentuk tanggung jawab karena sebelumnya lupa. Respons guru tetap menekankan bahwa nilai utama dari kegiatan ini adalah kebiasaan dan keikhlasan.
Kegiatan pembiasaan infaq ini berlangsung sederhana namun konsisten. Di balik rutinitas tersebut, sekolah berharap tumbuh sikap empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial pada diri anak.
Melalui langkah kecil yang dilakukan setiap hari selama Ramadan, PAUDIH berupaya membentuk karakter dermawan sejak dini sebagai bagian dari proses pendidikan yang berkelanjutan.
🌿 Warta QLC/Hikmah
SEMARANG — Kajian Sabtu yang dilaksanakan pada 7 Maret 2026 di lingkungan Yayasan Abul Yatama Semarang menghadirkan Habib Ja’far Musawwa sebagai pemateri. Kegiatan ini diikuti oleh keluarga besar LPI Hidayatullah Semarang dan membahas salah satu hadis dari Arba'in Nawawi, khususnya hadis ke-29 yang menyinggung tentang puasa, pintu-pintu kebaikan, dan jalan menuju keselamatan.
Dalam kajian tersebut, Habib Ja’far menekankan bahwa puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga perilaku sehari-hari.
Habib Ja’far menjelaskan bahwa dalam hadis Nabi disebutkan puasa adalah perisai. Artinya, puasa menjadi pelindung bagi seseorang dari perbuatan dosa dan hal-hal yang dapat merusak amal.
Ia mengibaratkan puasa seperti salat yang memiliki rambu-rambu. Jika dalam salat ada hal yang membatalkan—seperti hadas—maka dalam puasa juga ada hal-hal yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan pahalanya.
“Rambu-rambu puasa sebenarnya ada dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang harus mampu menahan diri dari tindakan yang merusak nilai puasanya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak memperoleh pahala selain lapar dan dahaga. Hal itu bisa terjadi ketika seseorang tidak menjaga lisan, misalnya dengan berkata kasar atau menyakiti orang lain.
Dalam penjelasannya, Habib Ja’far juga menyinggung berbagai pintu kebaikan yang terbuka di bulan Ramadan. Sedekah, misalnya, disebut sebagai amalan yang dapat menghapus dosa.
Ia mengutip sejumlah hadis tentang keutamaan Ramadan dari kitab-kitab hadis seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, dan Jami' at-Tirmidhi.
Beberapa di antaranya menyebutkan:
Habib Ja’far juga mengingatkan tentang keutamaan malam Lailatul Qadr. Dalam hadis disebutkan bahwa siapa yang beribadah pada malam tersebut dengan iman dan harapan pahala, maka dosa-dosanya akan diampuni.
Selain itu, ia mengutip hadis qudsi yang menjelaskan bahwa Allah sangat mencintai hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya melalui amalan-amalan sunnah.
Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan tentang tanda-tanda malam Lailatul Qadar.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Habib Ja’far menekankan bahwa upaya mencari malam Lailatul Qadar sebaiknya tidak hanya dilakukan pada malam-malam ganjil di akhir Ramadan.
Menurutnya, perbedaan penetapan awal Ramadan di berbagai tempat bisa menyebabkan perbedaan hitungan malam ganjil dan genap.
“Karena itu, sebaiknya kita memulai kesungguhan ibadah sejak awal Ramadan. Dengan begitu, peluang mendapatkan Lailatul Qadar menjadi lebih besar,” ujarnya.
Kajian ditutup dengan pesan agar Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum memperbaiki ibadah, menjaga lisan dan perilaku, serta memperbanyak amalan kebaikan.