
Buletin Pekanan Hidayatullah – Edisi 22
Alhamdulillah, Edisi 22 kembali hadir dengan rangkaian kabar dari unit pendidikan Hidayatullah, mulai dari PAUD hingga SMA, serta rangkuman kajian rutin yang menguatkan nilai-nilai ruhiyah kita bersama.
Pada edisi ini, pembaca dapat mengikuti semangat sinergi antarjenjang melalui kegiatan Kafilah Dakwah yang melibatkan adik-adik TK bersama kakak-kakak SD. Dari kegiatan sederhana tersebut, tampak upaya menanamkan keberanian, rasa percaya diri, dan kecintaan terhadap nilai dakwah sejak usia dini.
Di jenjang sekolah dasar, suasana belajar yang kontekstual juga terlihat melalui kegiatan praktik dan pembiasaan karakter. Anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi dilatih bekerja sama, berinteraksi, dan mengalami langsung proses pembelajaran yang bermakna.
Sementara itu, SMP dan SMA menunjukkan komitmen serius dalam menjaga mutu pembelajaran Al-Qur’an. Pengukuhan sebagai Sekolah Model UMMI Foundation menjadi bagian dari proses panjang penjaminan kualitas yang melibatkan standar, evaluasi berjenjang, serta perbaikan berkelanjutan. Capaian tersebut bukan sekadar prestasi administratif, tetapi amanah untuk menjaga konsistensi dan kualitas.
Melengkapi laporan pendidikan, Kajian Sabtu rutin bersama Ustadz Amin mengingatkan kembali pada hal yang paling mendasar: kesungguhan dalam salat, kesadaran akan kematian, pentingnya menjaga diri dari dosa, serta memaksimalkan momentum Ramadan untuk memperbaiki kualitas ibadah.
Edisi ini menunjukkan satu benang merah yang sama: pendidikan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi proses berkelanjutan dalam membentuk karakter, memperkuat akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sinergi antarunit, konsistensi dalam pembinaan, dan penguatan ruhiyah menjadi fondasi yang terus dijaga.
Semoga rangkaian laporan dalam edisi ini menjadi penguat semangat bagi seluruh keluarga besar Hidayatullah untuk terus bertumbuh, belajar, dan berbenah.
Selamat membaca.
Warta terkini perkembangan sekolah & kegiatan siswa selama sepekan yang dirangkum dalam buletin online informatif dan mudah diakses kapan saja dengan akses internet.
PEMBUKAAN SPMB TAHUN AJARAN 2026/2027

Eko Wahyu D., M.Pd.
Adi Suipto, S.Pd.
Suci Wulansari, M.Pd.
Pimpinan Redaksi
Tarto, M.Pd.
Dewan Redaksi
Videa Salsabila W., S.K.M.
Devi Anggraini, S.M.
Yasiva Ayu P., S.Pd.
Kontributor:
Kehumasan PAUDIH
Kehumasan SDIH
Kehumasan SDIH 02
Kehumasan SMPIH
Kehumasan SMAIH
Predikat Sekolah Model Al-Qur’an dengan nilai A ini memperkuat posisi pembelajaran Al-Qur’an sebagai program unggulan di SMAHA. Namun, sekolah menegaskan bahwa capaian ini bukan akhir, melainkan bagian dari proses peningkatan mutu yang berkelanjutan.
SMP Islam Hidayatullah Berbagi Inspirasi Pemanfaatan iPad di Leadership Summit
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Islam Hidayatullah, Ardiansyah Pratama, S.Pd., menegaskan bahwa transformasi digital yang dilakukan sekolah tidak berhenti pada penggunaan perangkat.
Sekolah berharap pembiasaan yang dilakukan selama Ramadan dapat berlanjut dalam keseharian siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Selain aspek keterampilan, kegiatan ini dirancang untuk melatih kerja sama antarsiswa. Setiap kelompok diminta berbagi tugas, mulai dari menyiapkan alat hingga menyelesaikan hasil karya bersama.
Sekolah memandang kegiatan ini sebagai proses pembelajaran nyata. Anak-anak tidak hanya mendengar materi, tetapi juga melihat langsung keteladanan dari kakak-kakak SD.
Kajian Sabtu Rutin: Mengingat Kematian, Menjaga Ibadah, dan Memperbaiki Diri
Pesan ini mengajarkan kesungguhan dalam ibadah. Seseorang yang mengetahui ajalnya dekat tentu akan lebih khusyuk dan berhati-hati. Karena manusia tidak mengetahui kapan kematian datang, sering kali ia merasa longgar dan menunda perbaikan diri.
Sabtu, 14 Februari 2026 menjadi momen penting bagi SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) Semarang. Sekolah ini menerima penghargaan sebagai Sekolah Model Al-Qur’an Metode UMMI dengan nilai A (Sangat Baik). Sertifikat tersebut berlaku selama tiga tahun dan menjadi pengakuan atas konsistensi pembelajaran Al-Qur’an di SMAHA.
Penghargaan ini diberikan setelah melalui proses evaluasi sesuai standar sistem mutu UMMI Foundation.
Sertifikat penghargaan diserahkan langsung oleh perwakilan UMMI Foundation Surabaya, Ustadz M. Wahyudi, S.Th.I. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa predikat Sekolah Model dengan nilai A menunjukkan implementasi pembelajaran Al-Qur’an di SMAHA telah berjalan secara terstruktur dan konsisten.
Menurutnya, capaian ini menjadi indikator bahwa sistem yang diterapkan sudah memenuhi standar mutu yang ditetapkan UMMI Foundation.
Kepala SMAHA, Etik Ningsih, S.Pd., menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh tim sekolah dan dukungan yayasan. Ia menegaskan bahwa capaian ini menjadi tanggung jawab untuk menjaga kualitas yang sudah dibangun.
Penilaian Sekolah Model Al-Qur’an Metode UMMI mencakup beberapa aspek utama, di antaranya rasio guru dan siswa yang proporsional, metode mengajar yang konsisten, alokasi waktu pembelajaran yang memadai, serta peran aktif koordinator bidang tartil dan tahfidz. Dukungan berkelanjutan dari Yayasan Abul Yatama juga menjadi bagian dari sistem yang dinilai.
Koordinator Bidang Tahfidz, Ustadzah Miskyatul Fudlolah, A.Ma., menjelaskan bahwa proses pembelajaran dijalankan sesuai standar, namun tetap memperhatikan suasana belajar yang kondusif. Targetnya bukan hanya kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga pemahaman dan pembiasaan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Predikat Sekolah Model Al-Qur’an dengan nilai A ini memperkuat posisi pembelajaran Al-Qur’an sebagai program unggulan di SMAHA. Namun, sekolah menegaskan bahwa capaian ini bukan akhir, melainkan bagian dari proses peningkatan mutu yang berkelanjutan.
Dengan sistem yang sudah berjalan, SMAHA berupaya menjaga konsistensi dan terus melakukan perbaikan agar pembelajaran Al-Qur’an tetap terarah dan terukur.
SMP Islam Hidayatullah
SEMARANG — SMP Islam Hidayatullah Semarang menorehkan prestasi dalam penjaminan mutu pendidikan Al-Qur'an. Bertepatan dengan momen khidmat Khotaman dan Imtihan, Sabtu, 14 Februari 2026, sekolah ini resmi dikukuhkan sebagai Sekolah Model UMMI Foundation. Penyerahan sertifikat tersebut dilakukan langsung oleh pihak UMMI Foundation kepada Kepala Sekolah SMP Islam Hidayatullah, Reni Dria Susandari, S.Pd.
Pengukuhan ini bukanlah proses instan. Sebelumnya, tim observer UMMI Foundation Surabaya telah melakukan visitasi mendalam yang diwakili oleh Ustaz Roghibi, M.Pd. (UMMI Foundation Surabaya), didampingi oleh Ustaz Sholihin, S.Pd. (UMMI Daerah Semarang), pada tanggal 15 Oktober 2025 untuk memastikan SMP Islam Hidayatullah memenuhi kriteria Sekolah Model.
Kriteria tersebut meliputi implementasi 10 pilar yang terdiri dari: goodwill management, sertifikasi guru, waktu yang memadai, rasio guru dan siswa yang proporsional, koordinator yang andal, target yang jelas dan terukur, tahapan yang baik dan benar, mastery learning yang konsisten, quality control internal dan eksternal, serta progress report setiap siswa.
Sistem evaluasi dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tasmi’ bersama orang tua, pra-munaqasyah lintas unit, munaqasyah langsung oleh tim UMMI Foundation pusat Surabaya, dan terakhir Uji Publik (Khotaman dan Imtihan) yang menghadirkan siswa, orang tua siswa, segenap guru, tim penguji dari UMMI Foundation pusat Surabaya, pihak Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah, Yayasan Abul Yatama, serta tamu undangan.
Dalam sambutannya pada acara Khotaman dan Imtihan tersebut, Kepala SMP Islam Hidayatullah, Reni Dria Susandari, S.Pd., mengungkapkan rasa syukur atas capaian tahun ini.
“Tahun 2026 ini kami meluluskan lebih banyak siswa dibandingkan tahun sebelumnya. Peserta khotaman meningkat menjadi 217 siswa dengan tingkat kelulusan munaqasyah mencapai 90 persen. Ini adalah bukti bahwa manajemen yang rapi menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan efektif,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Umar Toha, M.B.A., M.Sc., selaku Ketua Yayasan Abul Yatama Semarang, menekankan pentingnya semangat perubahan.
“Kami mengamalkan konsep continuous improvement. Kami tidak boleh lekas berpuas diri dan harus terus bertumbuh demi memberikan yang terbaik bagi generasi Qur’ani,” tegas Umar Toha.
Sebagai Sekolah Model, SMP Islam Hidayatullah kini menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan lain dalam hal kualitas dan kuantitas pengajaran Al-Qur'an. Harapannya, sekolah tetap konsisten menjaga kualitas dan terus berinovasi agar metode pembelajaran Al-Qur'an tetap menyenangkan bagi siswa,” ungkap Alamul Huda, A.H., Koordinator BAQ SMP Islam Hidayatullah Semarang.
SD ISLAM HIDAYATULLAH
SEMARANG — Suasana pagi di SD Islam Hidayatullah tampak berbeda pada pelaksanaan Pesantren Ramadan tahun ini. Siswa tidak mengenakan seragam merah putih seperti biasanya. Lorong sekolah dipenuhi barisan anak-anak dengan busana muslim, kopiah, dan kerudung yang rapi.
Program Pesantren Ramadan menjadi agenda rutin sekolah dalam mengisi bulan suci dengan kegiatan pembinaan ibadah dan karakter.
Kegiatan dimulai pukul 07.45 WIB. Untuk kelas 1 hingga 4, pembinaan dilaksanakan di ruang kelas masing-masing. Sementara kelas 5 dan 6 dipusatkan di musala sekolah agar materi dapat disampaikan lebih terarah.
Agenda diawali dengan doa bersama dan murojaah surat-surat pendek juz 30. Setelah itu, siswa mengikuti penyampaian materi sesuai jenjang kelas.
Materi untuk kelas 1–4 meliputi zakat fitrah, lailatul qadar, serta keutamaan membaca Al-Qur’an. Sedangkan kelas 5 dan 6 mendapatkan materi tentang najis dan thaharah, serta pembahasan salat, baik wajib maupun sunah.
Pesantren Ramadan tidak hanya berisi penyampaian materi keagamaan. Sekolah menekankan pembiasaan sikap dan karakter yang selaras dengan nilai ibadah Ramadan.
Beberapa fokus utama kegiatan ini antara lain:
Menanamkan nilai kejujuran, kesabaran, dan kedisiplinan sebagai bagian dari praktik ibadah puasa.
Melatih siswa menjalankan ibadah secara sadar dan rutin, termasuk salat tepat waktu dan membaca Al-Qur’an.
Memberikan pemahaman dasar tentang ajaran Islam sesuai tahap perkembangan usia.
Membangun suasana kebersamaan antara siswa dan guru dalam nuansa religius yang kondusif.
Melalui Pesantren Ramadan, SD Islam Hidayatullah berupaya membangun fondasi karakter sejak usia sekolah dasar. Program ini dirancang sederhana dan terstruktur agar mudah dipahami siswa.
Sekolah berharap pembiasaan yang dilakukan selama Ramadan dapat berlanjut dalam keseharian siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Pesantren Ramadan menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam mengintegrasikan pendidikan akademik dan pembinaan karakter berbasis nilai keislaman.
SD ISLAM HIDAYATULLAH 02
SEMARANG — SD Islam Hidayatullah 02 mengadakan kegiatan bertajuk “Membatik Itu Asyik” pada 9 dan 10 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 3 sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan sekaligus penguatan karakter.
Program ini dilaksanakan di lantai 3 dan area dining room sekolah yang telah disiapkan sebagai ruang praktik.
Dalam kegiatan ini, siswa dikenalkan pada proses dasar membatik, mulai dari mengenal pola hingga praktik sederhana pada media kain. Guru mendampingi setiap kelompok agar siswa dapat mengikuti tahapan dengan tertib dan aman.
Kegiatan dibagi dalam beberapa sesi agar seluruh peserta mendapat kesempatan mencoba secara langsung. Selain melatih motorik halus, siswa juga belajar memahami proses pembuatan batik sebagai bagian dari budaya Indonesia.
Selain aspek keterampilan, kegiatan ini dirancang untuk melatih kerja sama antarsiswa. Setiap kelompok diminta berbagi tugas, mulai dari menyiapkan alat hingga menyelesaikan hasil karya bersama.
Guru kelas menyampaikan bahwa pembelajaran praktik seperti ini membantu siswa belajar berkomunikasi, bergantian peran, dan menyelesaikan tugas secara kolektif.
Suasana kegiatan berlangsung tertib dan interaktif. Siswa mengikuti setiap tahapan dengan pendampingan guru hingga kegiatan selesai.
“Membatik Itu Asyik” menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran kontekstual di SDIH 02, di mana siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga mengalami langsung proses belajar melalui praktik.
Sekolah berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan apresiasi terhadap budaya sekaligus membentuk sikap kerja sama yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
SEMARANG — Suasana berbeda terlihat di TK Islam Hidayatullah Semarang pada Selasa, 24 Februari 2026. Siswa-siswi TK B mengikuti kegiatan Kafilah Dakwah bersama kakak-kakak dari SD Islam Hidayatullah Semarang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergi antarjenjang pendidikan dalam keluarga besar Hidayatullah, sekaligus sarana pembelajaran nilai-nilai dakwah sejak usia dini.
Kafilah Dakwah dilaksanakan di lingkungan TK Islam Hidayatullah dengan melibatkan siswa SD sebagai pendamping dan pengisi acara. Program ini dirancang sebagai bentuk kolaborasi antara TK dan SD dalam pembinaan karakter Islami.
Melalui kegiatan ini, anak-anak TK diperkenalkan pada suasana dakwah dalam bentuk yang sederhana dan sesuai usia mereka. Kegiatan seperti membaca doa, melantunkan hafalan surah pendek, serta menyampaikan pesan moral singkat menjadi bagian dari rangkaian acara.
Sekolah memandang kegiatan ini sebagai proses pembelajaran nyata. Anak-anak tidak hanya mendengar materi, tetapi juga melihat langsung keteladanan dari kakak-kakak SD.
Acara diawali dengan bernyanyi bersama lagu bertema puasa. Anak-anak mengikuti gerakan dan lirik dengan pendampingan guru dan kakak SD.
Selanjutnya, perwakilan siswa SD menyampaikan penjelasan singkat tentang makna puasa dengan bahasa yang sederhana. Penjelasan dikaitkan dengan kebiasaan sehari-hari agar mudah dipahami siswa TK.
Sesi tanya jawab menjadi bagian yang cukup menarik perhatian.
Beberapa siswa TK B mengangkat tangan dan mencoba menjawab pertanyaan yang diberikan. Guru dan kakak SD memberikan apresiasi untuk setiap keberanian yang ditunjukkan.
Sepanjang kegiatan, suasana berlangsung tertib dan interaktif. Anak-anak mengikuti rangkaian acara dengan pendampingan guru kelas.
Partisipasi siswa TK dalam Kafilah Dakwah juga bertujuan melatih keberanian tampil di depan teman-teman. Meskipun dalam bentuk sederhana, pengalaman berbicara atau membaca hafalan di depan umum menjadi bagian dari proses perkembangan sosial dan emosional anak.
Kegiatan ini sekaligus mempererat hubungan antara adik-adik TK dan kakak-kakak SD. Interaksi tersebut diharapkan menumbuhkan rasa kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari satu lembaga pendidikan.
Acara ditutup dengan pembagian souvenir dan foto bersama sebagai dokumentasi kegiatan. Sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat terus menjadi bagian dari pembinaan karakter yang berkesinambungan sejak usia dini.
🌿 Warta QLC/Hikmah
SEMARANG — Kajian Sabtu rutin bersama Ustadz Amin pada 28 Februari 2026 membahas beberapa tema mendasar: kesadaran akan kematian, kualitas ibadah, serta sikap terhadap dosa dan taubat. Materi disampaikan melalui nasihat singkat dan kisah-kisah reflektif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ustadz Amin membuka kajian dengan mengutip nasihat Rasulullah kepada seorang sahabat yang meminta petuah singkat:
“Jika kamu salat, salatlah seperti orang yang hendak berpisah dengan dunia.”
Pesan ini mengajarkan kesungguhan dalam ibadah. Seseorang yang mengetahui ajalnya dekat tentu akan lebih khusyuk dan berhati-hati. Karena manusia tidak mengetahui kapan kematian datang, sering kali ia merasa longgar dan menunda perbaikan diri.
Kesadaran akan kematian bukan untuk membuat gelisah, tetapi agar ibadah dilakukan dengan lebih serius dan tidak sekadar rutinitas.
Sebagai ilustrasi, disampaikan kisah seorang raja yang mengalami obesitas dan tidak mampu mengendalikan makan. Berbagai upaya dilakukan, namun tidak berhasil.
Seorang ahli hikmah kemudian menyampaikan bahwa usia sang raja tinggal 40 hari. Mendengar hal itu, sang raja mulai membatasi makan dan menjaga diri. Kesadaran akan dekatnya kematian membuatnya berubah.
Pesan yang ingin ditegaskan: manusia sering baru berubah ketika merasa waktunya terbatas.
Ustadz Amin juga menceritakan kisah seorang bapak yang rutin iktikaf di masjid, ditemani menantunya. Ia membaca Al-Qur’an setiap hari, datang hampir tanpa jeda, hanya sesekali tidak hadir.
Beberapa bulan kemudian, ia tidak lagi terlihat di masjid. Saat ditanyakan, sang menantu menyampaikan bahwa beliau telah wafat.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa konsistensi dalam ibadah adalah bekal yang akan dibawa hingga akhir hayat.
Dalam kajian tersebut juga ditekankan agar tidak meremehkan dosa, sekecil apa pun. Gunung yang besar tersusun dari batu-batu kecil. Demikian pula dosa.
Satu dosa kecil akan meninggalkan titik hitam di hati. Jika seseorang segera bertaubat, titik itu akan hilang. Namun jika dibiarkan, titik tersebut akan semakin melebar.
Ustadz Amin mengingatkan agar tidak menceritakan dosa dengan rasa bangga. Sebaik-baik pendosa adalah yang mau bertaubat dan memperbaiki diri.
Disampaikan pula hadis tentang keutamaan mengikuti salat tarawih bersama imam hingga selesai:
“Barangsiapa yang salat (tarawih) bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Tirmidzi, shahih)
Pesan ini menekankan pentingnya bertahan hingga akhir dan tidak meninggalkan jamaah sebelum imam selesai.
Dalam pembahasan fikih puasa, diingatkan bahwa tidak semua orang yang berpuasa mendapatkan pahala sempurna. Ada yang hanya memperoleh lapar dan dahaga karena tidak menjaga lisan dan perilaku.
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari maksiat serta memperbaiki akhlak.
Ustadz Amin mengangkat kisah Nabi Yusuf yang memaafkan saudara-saudaranya ketika ia memiliki kekuasaan untuk membalas. Memaafkan dalam posisi kuat adalah tingkatan yang tinggi.
Sebelas saudara Nabi Yusuf diampuni. Hal ini menjadi pengingat bahwa Allah membuka pintu ampunan yang luas, terlebih di bulan Ramadan. Jika sebelas kesalahan diampuni oleh Nabi Yusuf, maka seorang hamba pun berharap dosa-dosanya diampuni di satu bulan penuh keberkahan.
Kajian juga mengingatkan tentang pentingnya berbakti kepada orang tua. Seseorang bisa celaka jika mendapati orang tuanya masih hidup tetapi tidak menjadikannya jalan menuju surga.
Di akhir sesi, disampaikan pertanyaan tentang seorang pembunuh yang ingin bertaubat. Jawabannya sederhana namun tegas: dekatkan diri kepada Allah semaksimal mungkin.
Taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan untuk kembali dan memperbaiki diri.
Kajian Sabtu tersebut ditutup dengan ajakan untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak taubat, dan menjaga hubungan dengan sesama, terutama orang tua.